Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Dalam jurnal berjudulAffective dependence: from pathological affectivity to personality disorders: definitions, clinical contexts, neurobiological profiles and clinical treatments yang disusun oleh Perrotta G pada 2021, ada beberapa hal traumatis yang dapat menyebabkan seseorang menjadi hyper-independence, di antaranya:

1. Merasa bila dirinya tidak pantas mendapat dukungan sosial
2. Diabaikan pada masa lalu, khususnya oleh orang tua/pengasuh saat masih kanak-kanak sehingga ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. Hal ini juga berlaku bila orang tua/pengasuh tidak secara konsisten hadir dalam kehidupan masa kecilnya.
3. Memiliki trust issue pada orang terdekat akibat menjadi korban kekerasan/pelecehan sehingga mereka merasa tidak aman untuk meminta bantuan.
4. Salah satu mekanisme diri mengatasi kejadian traumatis lainnya, seperti bencana alam, kecelakaan, diskriminasi, dan lain-lain sehingga mereka berusaha mendapatkan kembali kendali atas lingkungan mereka.

Ciri-ciri Hyper-Independence

Untuk mengecek apakah kamu memiliki kecenderungan hyper-independence, berikut ini ciri-cirinya.

1. Sering Memaksakan Diri dan Terlalu Bekerja Keras

Orang yang hyper-independence biasanya terlalu bekerja keras dalam karier dan akademik mereka sampai-sampai memaksakan diri. Selain itu, sibuk bekerja juga membuat mereka tak memiliki kehidupan di luar pekerjaan karena mereka memiliki alasan untuk menolak ajakan, membatalkan janji, menyendiri, atau tak menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Foto:Palu Malerba/Pexels

2. Punya Kepribadian Tertutup dan Susah Meminta Tolong

Mereka yang terlalu mandiri seringkali menutup diri dan enggan membagikan hal-hal yang bersifat pribadi kepada orang lain, seperti sekadar membagikan pikiran atau perasaan mereka. Mereka juga sulit meminta tolong atau mendelegasikan tugas, bahkan ketika merasa sudah tak sanggup untuk menanganinya lagi.

Biasanya, mereka tak mau mendelegasikan tugas karena merasa akan kehilangan kekuatan. Mereka pun percaya bahwa mengerjakan tugas tanpa bantuan siapa pun akan lebih efisien dibandingkan meminta tolong.

Baca Juga: 4 Tipe Introvert menurut Psikologi, Kenali Beda dan Plus Minusnya


3. Tidak Suka saat Orang Lain Bergantung Padanya Bahkan Menghindari Hubungan Akrab dengan Orang Lain

Karena tak mau bergantung pada orang lain, mereka yang mandiri berlebihan pun tak suka saat orang-orang bergantung dan membutuhkan mereka. Mereka juga terlalu waspada saat menjalin hubungan sosial dengan orang lain karena takut akan dikhianati.

Hal-hal itu membuat tak mudah bagi orang lain untuk mengenal mereka. Alhasil, mereka pun sulit membangun hubungan pertemanan maupun asmara dengan orang lain untuk jangka waktu lama.

4. Sering Membuat Keputusan Sepihak

Seorang hyper-independence selalu menggunakan sudut pandang “aku”. Akibatnya, saat harus membuat suatu keputusan penting, mereka jarang meminta pendapat orang lain.

Mereka pun tak mudah mengomunikasikan ide yang terlintas di benak mereka. Mereka juga tak mempertimbangkan hal yang orang lain pikir baik untuk diri mereka karena mereka ingin memilih untuk dirinya sendiri.

Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Foto:DANNY G/Unsplash

Cara Mengatasi Hyper-Independence

Untuk kamu yang punya kecenderungan hyper-independence dan ingin mengurangi atau menghapusnya, enam cara berikut ini bisa kamu coba.

1. Menggunakan Metode Task-Trust-Ask
halaman ke-1
Share: