Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Hal ini bahkan telah didukung oleh penelitian yang dilakukan Robert Bornstein, mengutip Psychology Today, yang menunjukkan bahwa sifat ketergantungan adalah sifat yang dimiliki semua orang. Adapun yang membedakan ketergantungan setiap orang hanyalah sehat tidaknya tingkat ketergantungan itu.

5. Hindari Hubungan Kodependen

Profesional trauma klinis bersertifikat Silvi Saxena mengutip CHOOSING therapy menyarankan para hyper-independence untuk menjauhi hubungan kodependen. Hubungan kodependen adalah hubungan saat seseorang merasa memiliki ketergantungan dengan satu orang lainnya.

Hubungan ini termasuk hubungan beracun dan biasanya terjadi saat orang yang memiliki anxious attachment style(rasa cemasatau insecure saat dalam hubungan) menjalin hubungan dengan orang yang mempunyai avoidant attachment style. (menghindari hubungan dekat yang intim dan emosional).

Tentunya hubungan ini akan membuatmu yang hyper-independence dan cenderung avoidant merasa tak nyaman sehingga semakin sulit memulihkan diri.

Baca Juga: 4 Drama Korea yang Bernasib Buruk, dari Insiden Tragis sampai Kontroversi


6. Jangan Ragu Menghubungi Ahli

Terakhir dan yang tak kalah penting adalah jangan mendiagnosis dirimu sendiri. Sebaiknya, hubungi ahli untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Terlebih bila kamu butuh bantuan untuk mengatasi trauma yang kamu hadapi.

Rastianta Rinandani
Kontributor GenSINDO
Universitas Negeri Jakarta
Instagram: @rastiantar


(ita)
halaman ke-3
Share: