Cuci Piring dan Masak di Rumah Harus Jadi Tugas Anak Perempuan? No Way!

Cuci Piring dan Masak di Rumah Harus Jadi Tugas Anak Perempuan? No Way!
Membersihkan rumah identik dengan tugas perempuan, padahal pekerjaan ini bisa dikerjakan bersama-sama. Foto/Shutterstock
JAKARTA - Pernah gak, sih, kamu merasa diperlakukan secara gak adil di rumahmu sendiri, karena kamu yang perempuan harus membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara kakak atau adik laki-lakimu, bahkan ayahmu, gak diharuskan begitu?

Padahal, sama halnya dengan saudara laki-lakimu, kamu juga punya pekerjaan rumah dari dosen atau guru di sekolah/kampus, atau juga mau rebahan sebentar. Tapi sebelum bisa melakukan keduanya, kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu, gak kayak mereka.

Ini adalah contoh terdekat dari ketidaksetaraan gender yang bisa terjadi di ranah terkecil, yaitu ranah domestik atau rumah tangga. Terdengar sepele memang. Tapi dari hal sekecil ini aja, implikasinya bisa luas ke berbagai aspek. (Baca Juga: Film-film untuk Belajar Memperjuangkan Hubungan yang Penuh Perbedaan )

Karena, kebiasaan membebankan tanggung jawab tertentu kepada satu jenis kelamin aja akibat stigma-stigma tentang gender, akan membuat kita terbebani sendiri nantinya.



Cuci Piring dan Masak di Rumah Harus Jadi Tugas Anak Perempuan? No Way!

Foto: Alamy Stock PhotoOleh karena itu, penting bagi kita, anak muda, untuk membiasakan diri melihat pekerjaan rumah tangga sebagai tanggung jawab semua orang, baik laki-laki maupun perempuan.

Logikanya sebenarnya sederhana aja. Kalau hasil pekerjaan rumah tangga itu baik, seperti makanan hasil masakan, pakaian-pakaian bersih, dan rumah yang nyaman, dinikmati dan menguntungkan seluruh anggota keluarga, mestinya itu juga jadi tanggung jawab bersama.

Lagi pula, kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menyuci piring dan pakaian, serta membersihkan rumah, adalah survival skill dasar yang harus dimiliki semua orang, laki-laki maupun perempuan.



Coba bayangin, entah kamu laki-laki atau perempuan. Suatu ketika ibumu pergi ke luar kota selama beberapa hari. Pekerja rumah tangga (PRT) yang biasanya membantu pekerjaan di rumahmu juga gak bisa datang.

Tapi, kamu gak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kamu pun jadi kelaparan karena gak bisa masak, atau jadi gak nyaman di rumah karena gak bisa membersihkannya.

Juga bayangkan kalau kamu merantau jauh dari rumah. Berarti kamu sedikitnya mesti punya keterampilan masak dan membersihkan kamar kamu sendiri. (Baca Juga: Mengulik Makna Bucin alias Budak Cinta dari Perspektif Sains )

Cuci Piring dan Masak di Rumah Harus Jadi Tugas Anak Perempuan? No Way!

Foto: Getty Images

Itu jangka pendeknya. Jangka panjangnya, dan yang lebih serius lagi, pemberatan tanggung jawab pekerjaan rumah tangga ke pihak perempuan ikut menyumbang sistem pembagian upah yang gak adil di berbagai industri dan pekerjaan.

Erling Barth, Sari Pekkala Kerr, dan Claudia Olivetti dari National Bureau of Economic Research, Amerika Serikat, dalam penelitian mereka yang berjudul "The Dynamics of Gender Earnings Differentials: Evidence From Establishment Data" (2019) mengungkapkan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga yang ditetapkan secara gak adil (membebani perempuan semata) merupakan penyumbang besar terhadap lahirnya kesenjangan upah antara pekerja laki-laki dan pekerja perempuan.
halaman ke-1 dari 3
Share: