CERMIN: Segitiga Kesetaraan, Patriarki, dan Kapitalisme
loading...

Film Triangle of Sadness berbicara tentang hal-hal penting dan serius tapi dengan kemasan yang ringan. Foto/KlikFilm
A
A
A
JAKARTA - “Kau tahu, kesetaraan adalah mitos. Untuk beberapa alasan, semua orang menerima kenyataan bahwa perempuan tidak menghasilkan uang sebanyak pria.
Aku tidak mengerti itu? Mengapa kita harus berada di belakang?” [Beyonce – Majalah GQ edisi Februari 2013]
Tahun 2013. Saya mempersiapkan produksi film Hijabers in Love. Kisahnya tentang dua orang remaja perempuan dengan problematikanya masing-masing. Sebuah film yang menempatkan perempuan sebagai sosok sentral. Dan saya merasa sah sebagai pelaku kesetaraan.
Tapi ternyata hal itu tak semudah yang dibayangkan. Saya tetap laki-laki. Dalam beberapa hal, saya menikmati sejumlah privilege berbasis jenis kelamin. Dalam satu hal saya didahulukan, dalam hal lain saya diutamakan.
Maka saya melihat bahwa dunia semakin ideal dan kita semakin peduli dengan isu kesetaraan. Tapi betulkah peduli setara dengan melakukannya? Dan apakah betul kepedulian kita mendorong kita untuk menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari?
![CERMIN: Segitiga Kesetaraan, Patriarki, dan Kapitalisme]()
Foto: KlikFilm
Ternyata saya salah. Kesetaraan kadang masih terdengar seperti omong kosong. Kata-kata indah yang selalu disenandungkan agar yang satu menunduk dan terdiam serta tak bersuara lagi. Ruben Ostlund menggunakan platform yang paling dikenalnya untuk mengkritik soal kesetaraan, yaitu film.
Ruben tak hanya memuntahkan uneg-unegnya soal kesetaraan. Ia juga membahas soal patriarki dan kapitalisme dalam segitiga ceritanya dalam film Triangle of Sadnessyang bisa ditonton via KlikFilm.
Baca Juga: CERMIN: Gina S Noer dan Keberpihakan pada Perempuan
Hanya Ruben seorang mungkin sutradara di dunia ini yang bisa mengobrolkan tiga isu penting itu dalam sebuah cerita ringan, dituturkan dengan asyik, tak bikin kening berkerut, membuat kita tersenyum sekaligus merasa tertamparpada saat bersamaan.
Aku tidak mengerti itu? Mengapa kita harus berada di belakang?” [Beyonce – Majalah GQ edisi Februari 2013]
Tahun 2013. Saya mempersiapkan produksi film Hijabers in Love. Kisahnya tentang dua orang remaja perempuan dengan problematikanya masing-masing. Sebuah film yang menempatkan perempuan sebagai sosok sentral. Dan saya merasa sah sebagai pelaku kesetaraan.
Tapi ternyata hal itu tak semudah yang dibayangkan. Saya tetap laki-laki. Dalam beberapa hal, saya menikmati sejumlah privilege berbasis jenis kelamin. Dalam satu hal saya didahulukan, dalam hal lain saya diutamakan.
Maka saya melihat bahwa dunia semakin ideal dan kita semakin peduli dengan isu kesetaraan. Tapi betulkah peduli setara dengan melakukannya? Dan apakah betul kepedulian kita mendorong kita untuk menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari?

Foto: KlikFilm
Ternyata saya salah. Kesetaraan kadang masih terdengar seperti omong kosong. Kata-kata indah yang selalu disenandungkan agar yang satu menunduk dan terdiam serta tak bersuara lagi. Ruben Ostlund menggunakan platform yang paling dikenalnya untuk mengkritik soal kesetaraan, yaitu film.
Ruben tak hanya memuntahkan uneg-unegnya soal kesetaraan. Ia juga membahas soal patriarki dan kapitalisme dalam segitiga ceritanya dalam film Triangle of Sadnessyang bisa ditonton via KlikFilm.
Baca Juga: CERMIN: Gina S Noer dan Keberpihakan pada Perempuan
Hanya Ruben seorang mungkin sutradara di dunia ini yang bisa mengobrolkan tiga isu penting itu dalam sebuah cerita ringan, dituturkan dengan asyik, tak bikin kening berkerut, membuat kita tersenyum sekaligus merasa tertamparpada saat bersamaan.
Lihat Juga :