Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral

Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral
Pandangan antinatalisme menyebut bahwa melahirkan anak hanya akan membawa derita bagi anak tersebut. Foto/Pixabay
JAKARTA - Beberapa hari lalu, sempat viral sebuah cuitan di Twitter tentang mahalnya biaya membesarkan anak - hingga Rp3 miliar per anak hingga ia dewasa - hingga membuat sang penulis cuitan tersebut enggan untuk mempunyai anak.

Meski tak sepenuhnya sama, ada pula istilah yang disebut dengan antinatalisme. Menurut Ken Coates dalam buku "Anti-Natalism: Rejectionist Philosophy from Buddhism to Benatar", antintalisme adalah paham yang menganggap tindakan seseorang melahirkan anak ke dunia adalah sebuah tindakan amoral. Anak kemudian akan dijadikan sapi perah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Mereka menganggap anak yang dilahirkan tidak dapat bebas menentukan pilihan hidupnya karena harus bergantung pada keputusan orang tua. Lawan dari antinatalisme adalah pronatalis yang mendukung kelahiran.

Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral

Foto:Daily Sabah



Sementara dari buku "Better Never to Have Been: The Harm of Coming into Existence" karya Julio Cabrera dan David Benatar, sesuai dengan pemikiran filsafat moral Kant, berpendapat bahwa manusia tidak boleh memiliki keturunan dan kehidupan harus berhenti di dirinya.

Pemikiran Julio ini melihat hidup penuh dengan rasa sakit fisik yang tak terhindarkan, hambatan pada moral, dan keputusasaan yang dinamakan taedium vitae. Selain itu, kondisi psikologis seperti depresi juga menjadi dasar karena anak tidak pernah dapat memilih kebaikannya sendiri.

FILSAFAT PADA ANTINATALISME



Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral

Foto: via Amazon

Pemikiran mengenai kesia-siaan hidup juga tercermin pada pemikiran-pemikiran filsuf, khususnya filsuf eksistensialisme seperti Albert Camus. Ia memandang kehidupan menjadi absurd karena manusia dan dunia yang dihidupinya tidak saling sejalan.

Hal ini sesuai dengan salah satu konsep dalam eksistensialisme, yaitu absurdisme yang memandang hidup tidak punya makna karena terdapat ketidakadilan di dalamnya.

Selain itu, filsuf Schopenhauer yang menganut aliran pesimisme juga bersuara mengenai hadirnya eksistensi. Ia berpendapat bahwa penderitaan dalam hidup lebih hakiki kehadirannya daripada kebahagiaan. Menurutnya, penderitaan tidak akan ada apabila tidak ada kehidupan.

Baca Juga: Belajar Filsafat, Beneran Jadi Atheis dan Sesat?

LITERATUR MODERN ANTINATALISME

Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral

Foto: BBC

Dalam buku "Better Never to Have Been: The Harm of Coming Existence", juga ditekankan tentang anak yang “menderita” dalam hidupnya.

Para penulis setuju bahwa hidup juga penuh dengan kebahagiaan. Namun, hanya sebagian yang merasakan kebahagiaan itu.

Mereka juga membuat premis mengenai kehidupan seorang manusia, yaitu apabila seseorang lahir, itu akan mengurangi rasa sakit yang akan ditanggungnya nanti. Menurut premisnya, kehadiran rasa sakit lebih besar daripada rasa kebahagiaan.

SEORANG PRIA INDIA MENUNTUT ORANG TUANYA

Antinatalisme: Saat Melahirkan Anak Jadi Tindakan Amoral

Foto: Pixabay

Pada Februari 2019, seorang pria India, Raphael Samuel secara mengejutkan ingin menuntut orang tuanya. Ia berpendapat bahwa mereka telah melahirkannya tanpa persetujuan darinya.

Pemikiran antinatalismenya muncul saat ia berusia lima tahun. Saat itu, orang tuanya menyuruhnya terus-terusan untuk berangkat sekolah. Padahal ia sedang frustrasi dan tidak ingin pergi. Ia pun bertanya kepada orang tuanya, “Terus, mengapa kalian memilikiku?”

Hidup Raphael jauh dari kata tidak baik-baik saja. Hidupnya sangat berkecukupan dan berhubungan dekat dengan orang tuanya. Namun, karena hal itu ia merasa bahwa orang tuanya hanya menggunakannya untuk memenuhi keinginan mereka.

"Tidak ada gunanya kemanusiaan. Begitu banyak orang yang menderita. Jika umat manusia punah, Bumi dan hewan akan lebih bahagia. Mereka pasti akan menjadi lebih baik. Selain itu, tidak akan ada manusia yang menderita. Keberadaan manusia sama sekali tidak ada gunanya," katanya, mengutip dari BBC .

HUBUNGAN ANTINATALISME DENGAN LINGKUNGAN

Sebuah studi menyatakan bahwa dampak terbesar pengurangan emisi karbon adalah dengan memiliki sedikit anak. Hal ini setara dengan pengurangan 58 ton CO2 untuk setiap tahun dalam sebuah keluarga.

Sebagai perbandingan, hidup tanpa kendaraan selama setahun dapat menghemat 2,4 ton. Namun, dampak kelebihan populasi di Bumi dapat menjadi masalah baru untuk lingkungan. Misalnya, di Amerika Serikat seseorang bertanggung jawab atas 40 kali emisi yang dihasilkan oleh orang Bangladesh.

Baca Juga: Sering Dapat Stereotip Negatif, Ini 7 Kelebihan Anak Broken Home

Krisis iklim juga menjadi masalah bagi Bumi. Karena hal itu, masa depan anak pun terancam. Para antinatalis memiliki pemikiran pesimistis-skeptis untuk memastikan planet layak huni bagi anak-anak yang baru dilahirkan.

Melansir dari Lifegate , menurut perhitungan Global Footprint Network, manusia telah menggunakan lebih dari apa yang dapat didukung oleh Bumi dalam satu tahun. Hal tersebut memicu penurunan sumber daya yang Bumi sediakan untuk menyokong kebutuhan sehari-hari.

Alifia Putri Yudanti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Twitter: @shcsei


(ita)
Share: