Tren

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!
Tren gak tercipta dalam semalam, tapi bertahap dan melibatkan kelompok-kelompok tertentu. Foto/Stephen Collins, Collins Photos
Jakarta - Kalau kita mendengar kata ‘tren’, pasti yang pertama muncul di kepala kita adalah aplikasi TikTok dan cloud bread yang masih viral sampai sekarang.

Orang-orang selalu berbondong mencoba sesuatu yang jadi tren biar katanya gak ketinggalan zaman.

Tapi kalian pernah gak, sih, penasaran gimana prosesnya sebuah makanan atau desain baju tertentu bisa jadi tren di kalangan anak muda? Kalau penasaran, di bawah ini adalah jawabannya.

Semua ini bisa dijelasin dengan teori Diffusion of Innovation yang dikembangin oleh E.M Rogers pada tahun 1962.



Teori ini menjelaskan gimana seiring waktu, sebuah ide atau produk mendapatkan momentum dan menyebar di tengah masyarakat.

Alhasil, karena difusi ini, orang sebagai bagian dari sistem sosial mengadopsi ide baru, perilaku, atau produk.

Teori ini dibagi jadi lima tahapan yang diwakili oleh aktor-aktor yang terlibat dalam tiap proses difusi. (Baca Juga:Selfie Dysmorphia, Penyakit Psikologis di Balik Tren FaceApp)



1. PARA PENDAHULU (THE INNOVATORS)


Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Foto: astons.com

Inovator adalah mereka yang berkenan mencoba sebuah ide, perilaku atau produk yang baru. Mereka cenderung senang ketika dikasih kesempatan mencoba produk baru dan terkadang jadi kurang berminat dengan sesuatu yang mainstream.

Inovator punya tanggung jawab dalam menciptakan suatu gerakan baru yang cukup asing secara budaya. Hal kayak gini bisa kita temukan pada kegiatan endorsment yang biasanya dilakukan oleh seleb ternama. Pasti kalian gak asing, lah, ya, dengan inovator-inovator ini.

2. PARA PENGIKUT AWAL (THE EARLY ADOPTERS)

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Foto: Unsplash

Semua hal dimulai dari nol, begitu juga sebuah tren sebelum meledak. Para pengikut awal ini bisa dibilang merupakan trendsetter yang punya kekuatan jaringan (networking) disertai jaringan media sosial yang solid.

Merekalah yang menyebarkan tren baru itu dari mulut ke mulut atau lewat media sosial dengan kekuatan jaringan yang mereka punya. Kondisi ini mirip banget sama youtuber yang hobi nge-review barang atau makanan kekinian sebelum banyak dicoba orang lain.

3. PARA PENGIKUT GELOMBANG PERTAMA (THE EARLY MAJORITY)

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Foto: Unsplash

Nah, kalau sebelumnya mulai ada review-review produknya, pada tahapan ini, media massa mulai menyoroti produk itu. Belum menjadi tren memang, cuma udah mulai ada potensi besardari produk itu.

Di sini juga udah banyak orang yang coba-coba produknya sebelum rata-rata orang mencobanya. (Baca Juga:Lagi Tren, Tato Gambar Unik Dibuat di Langit-Langit Mulut)

4. PARA PENGIKUT MAYORITAS (THE LATE MAJORITY)

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Foto: iStock Photo

Orang-orang pada kategori ini biasanya skeptis dengan tren baru. Mereka butuh diyakinkan berkali-kali sebelum berkenan mencoba tren itu. Mereka cukup konservatif dalam menyikapi hal-hal baru yang berkembang dalam masyarakat.

Orang-orang ini sangat hati-hati dengan yang namanya inovasi dan agak malas untuk mencoba sampai betul-betul banyak orang melakukannya. Sebuah tren harus mengikuti norma untutk meyakinkan golongan ini.

5. ANTI-TREN (THE LAGGARDS)

Kok Bisa, Sesuatu Jadi Tren? Yuk, Simak Prosesnya!

Foto: Shutterstock

Terakhir dan yang paling lamban menerima sebuah tren. Tren yang sudah menyebar ke mana-mana dan terserap ke dalam budaya akan mati kalau bertemu grup ini. Sedikit pun mereka gak pernah berpikir buat nyoba-nyoba tren-tren kekinian karena memang mereka kurang tertarik.

Jadi begitu deh perjalanan sesuatu jadi tren, yang pasti bukan proses sehari jadi, ya. Penyebarannya perlahan-lahan dari satu golongan manusia ke golongan manusia lainnya. (Baca Juga:Sering Salah Kaprah, Gaya Hidup Minimalis dan Frugalisme Ternyata Gak Sama)

Ada golongan yang gatel banget buat coba tren itu karena takut dibilang kudet, tapi ada juga mereka yang masa bodo dengan tren-tren itu karena ngerasa gak ada gunanya ngikutin sebuah tren. Nah, kamu masuk golongan yang mana, nih?

Shanen Patricia Angelica
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Instagram:@patriciaaash

(it)
Artikel Terkait
TULIS KOMENTAR ANDA!
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...

    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel dalam bentuk word dengan panjang tulisan minimum 4000 karakter.

    Sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.

    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke :

    gensindo[dot]mail[at]gmail[dot]com
Terpopuler
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss