Gak Cuma Indonesia, Demo Besar saat Pandemi Juga Terjadi di Negara Asia Tenggara Lainnya

Gak Cuma Indonesia, Demo Besar saat Pandemi Juga Terjadi di Negara Asia Tenggara Lainnya
Demonstrasi besar-besaran bukan cuma terjadi di Indonesia, tapi juga di Thailand dan Filipina. Foto/Reuters
JAKARTA - Rangkaian demonstrasi yang mewarnai penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja sejak awal Oktober 2020 lalu masih terus berlanjut hingga saat artikel ini ditulis.

Berbagai elemen masyarakat masih setia untuk ikut turun dalam aksi penolakan undang-undang tersebut. (Baca Juga: Video Via Vallen Plagiat IU? Ini Batasan Plagiat Versi Hukum Indonesia )

Nah, ternyata aksi demonstrasi di tengah pandemi COVID-19 ini bukancuma terjadi di Indonesia saja.Negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Thailand dan Filipina, juga sedang dilanda demonstrasi berskala besar.

Massa Aksi di Thailand Menuntut Perdana Menterinya Untuk Turun

Demonstrasi besar di Thailand merupakan serangkaian aksi yang menentang pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha. Para demonstran menuntut adanya reformasi di kerajaan, serta menuntut untuk menyudahi kekerasan yang diterima aktivis.



Demonstrasi bermula pada akhir Februari lalu setelah partai oposisi yang paling vokal mengkritik Perdana Menteri Thailand dibubarkan oleh pengadilan.

Gak Cuma Indonesia, Demo Besar saat Pandemi Juga Terjadi di Negara Asia Tenggara Lainnya

Foto: globalvoices.org

Demonstrasi sempat berhenti karena COVID-19, kemudian dilanjutkan kembali pada Juli setelah keadaan Thailand membaik. Demonstrasi besar ini dipimpin oleh gerakan pemuda dan mahasiswa yang menamakan dirinya Free Youth Umbrella dan bertempat di Monumen Demokrasi, Bangkok.



Strategi menggunakan payung sebagai tameng menghadapi water cannon, chat group rahasia dan aman untuk saling menginfokan, serta simbol-simbol tangan untuk komando saat melakukan protes menjadi keunikan yang dimiliki massa aksi protes di Thailand.

Lalu berlanjut pada 3 Agustus 2020 lalu, kelompok-kelompok mahasiswa Thailand terus menuntut adanya reformasi di pihak kerajaan yang selama ini menjadi hal tabu untuk dikritik masyarakat.

Pada 19 September kemarin, sekitar 20.000 sampai dengan 100.000 massa turun ke jalan untuk memberikan tantangan terbuka kepada Raja Vajiralongkorn. (Baca Juga: Bukan cuma Laki-laki dan Perempuan, Ini Lima Gender dalam Budaya Bugis )

Aksi massa menjelaskan bahwa mereka takbermaksud mengakhiri sistem monarki di Thailand. Mereka cuma mau adanya reformasi di dalam kerajaan.

Sampai saat ini, ada 10 tuntutan yang dilayangkan oleh para demonstran. Aksi protes ini terus berlanjut dan dijadwalkan untuk berlangsung lagi tepat pada hari ini, yaitu 27 Oktober 2020.

Protes Menentang Pemerintahan Presiden Duterte di Filipina
halaman ke-1 dari 2
Share: