DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban

DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban
Korban kekerasan seksual kerap merasakan penderitaan berlapis hingga harus berpikir panjang sebelum bicara ke publik. Foto/Shutterstock
JAKARTA - Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan dengan pengakuan seorang perempuan yang diduga terkena pelecehan oleh selebritas berinisial GH. Setelah korban berbicara dengan membuat utas di Twitter, GH pun membuat klarifikasi.

Dalam kasus-kasus pelecehan seksual, para pelaku kerap kali menggunakan taktik yang dinamakan DARVO. DARVO merupakan akronim dari Deny (Menyangkal), Attack (Menyerang), Reverse (Membalikkan), Victim (Korban), dan Offender (Pelaku).

Taktik ini digunakan oleh pelaku kekerasan seksual untuk membungkam korban agar mereka merasa malu dan bersalah atas kesaksiannya. Istilah ini hampir mirip dengan gaslighting, yaitu memanipulasi korban sehingga ia mempertanyakan kembali kebenaran pernyataannya.

DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban

Foto:Shutterstock



Dalam kasus kekerasan seksual, kesaksian dari korban seharusnya didengar terlebih dahulu. Perbuatan pelaku terkadang sangat membekas bagi korban sehingga ia sampai mengalami trauma.

Terlebih lagi, saat pelaku kekerasan memiliki kuasa yang tinggi dan merupakan seorang yang berpengaruh. Korban tentu akan semakin takut untuk melaporkan kasusnya. Karena itulah, banyak korban yang memilih berbicara di media sosial dibanding langsung melaporkannya. Apalagi, banyak peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa korban baru berani bicara ke publik setelah berhasil mengatasi trauma selepas kekerasan terjadi.

Baca Juga: Ini Dia Jenis-Jenis Pelecehan Seksual yang Perlu Kamu Tahu



ASAL MULA ISTILAH DARVO

DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban

Foto:Getty Images

Melansir dari SBS , istilah DARVO pada awalnya dikonsepkan oleh Jennifer J. Freyd. Ia mempublikasikan artikelnya pada 1997 tentang teori trauma pengkhianatan.

Dalam artikelnya tertulis bahwa DARVO mengacu pada reaksi para pelaku kejahatan saat telah melakukan kesalahan, khususnya pelaku kekerasan seksual. Oleh karena itu, dapat dikatakan DARVO digunakan pelaku untuk melindungi diri dan tidak mau mengakui kesalahan.

Jennifer juga menjelaskan bahwa melalui teknik ini pelaku bisa menyangkal pernyataan korban perilakunya, menyerang individu yang memberikan kesaksian, dan membalikkan peran antara pelaku dan korban. Dengan taktik terakhir, pelaku seolah-olah akan berperan sebagai "korban".

SAYANGNYA, STRATEGI DARVO EFEKTIF

DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban

Foto: Shutterstock

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2017, Jennifer dan timnya juga menunjukkan bahwa korban yang terkena DARVO lebih cenderung merasa menyalahkan diri sendiri pada akhir wawancara. Penelitiannya pada 2020 juga menunjukkan bahwa orang-orang yang disajikan dengan laporan pelecehan diikuti oleh aksi DARVO, cenderung tidak mempercayai korban.

Melansir dari SBS, terdapat gagasan tentang himpati, yaitu istilah yang diciptakan oleh Filsuf Kate Manne dalam bukunya "Down Girl: The Logic of Misogyny". Himpati adalah simpati yang berlebihan kepada pelaku kekerasan seksual. Apabila dilakukan, pelaku akan semakin dilindungi keberadaannya dan korban terus diserang.

CARA UNTUK MELAWAN DARVO

DARVO: Cara Pelaku Kekerasan Seksual Membungkam Korban

Foto:Adobe Stock

Penelitian Jennifer menunjukkan bahwa kesadaran akan bahaya DARVO sangat membantu korban. Berikut hal yang dapat dilakukan agar strategi ini tidak membahayakan korban.

Pertama adalah menyadari. Kita harus sadar saat pelaku kekerasan melakukan DARVO, yaitu saat pelaku mulai menyerang korban dan malah memposisikan diri sebagai korban. Dari situ, kita dapat mulai untuk menegur pelaku agar tidak melakukan hal tersebut. Pun kalau tuduhannya belum terbukti, pelaku tidak seharusnya mengonfrontasi korban dan mengumpulkan massa.

Baca Juga: 5 Film tentang Para Perempuan Melawan Diskriminasi

Kedua adalah fokus. Fokus harus dikembalikan kepada korban dan menyemangatinya. Korban pasti akan merasa bersalah dan takut dengan kesaksiannya. Oleh karena itu, dukungan dari banyak orang akan sangat bermakna baginya karena ia tidak akan merasa sendiri.

Alifia Putri Yudanti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Twitter: @shcsei


(ita)
Share: