Highly Sensitive Person: Mengelola Sifat Baper Menjadi Sebuah Kekuatan

Highly Sensitive Person: Mengelola Sifat Baper Menjadi Sebuah Kekuatan
Jadi orang yang supersensitif alias Highly Sensitive Person (HSP) bukanlah sebuah kekurangan, melainkan modal untuk sebuah kekuatan besar. Foto/Shutterstock
JAKARTA - Apakah kamu gampang menangis saat menonton film atau mendengar musik? Atau kamu pernah lihat salah satu temanmu yang kelihatannya resah kalau ada di lingkungan yang bising?

Kalo dari kacamata psikologi, orang-orang emosinya mudah tergugah seperti ini dikategorikan sebagai Highly Sensitive Person (HSP) alias superbaper.

Tapi tunggu dulu, HSP gak cuma jadi monopoli kaum perempuan, ya. Gak sedikit kaum laki-laki yang juga tergolong HSP. Tapi biasanya dengan alasan gak mau dianggap terlalu ‘lembut’ oleh orang lain, mereka cenderung menyembunyikan perasaannya.

Pada 1990-an, psikolog Dr. Elaine Aron pernah mengembangkan sebuah penelitian untuk pertama kalinya mengenai kecenderungan psikologis HSP. Hasilnya, melalui pengembangan instrumen tes yang dia lakukan, sekitar 15-20 persen masyarakat ternyata terdeteksi sebagai orang dengan tingkat sensitivitas tinggi.

HSP sering diberikan label cengeng, berlebihan, baperan, dan diidentikkan dengan sederet karakteristik negatif lainnya oleh orang lain. Padahal, kamu yang memiliki sensitivitas tinggi gak perlu mati-matian untuk mengubah dirimu hingga 180 derajat, cukup menjadi diri sendiri. Hal yang harus kamu lakukan adalah mengelola kelemahanmu menjadi sebuah kekuatan atau bahkan bakat.

Lantas, apa aja yang bisa kamu lakukan agar dapat mengelola HSP? Simak dengan baik poin-poin berikut ini.



Highly Sensitive Person: Mengelola Sifat Baper Menjadi Sebuah Kekuatan

Foto: Shutterstock


Menyelaraskan Antara Emosi dan Kreativitas

Emang bener, sih, bahwa kerja keras adalah salah satu faktor pendukung untuk mencapai hasil yang gemilang. Tapi, kamu tahu gak, hampir seluruh mahakarya di dunia ini dihasilkan oleh HSP, baik itu karya sastra, musik, film, lukis, dan penemuan teknologi.
halaman ke-1
Share: