Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi

Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi
Black Panther: Wakanda Forever mencampurkan drama politik, rasa kehilangan, duka cita, amarah, dan dendam menjadi sebuah tontonan penuh emosi yang naik turun. (Foto: Marvel)
Black Panther: Wakanda Forever menjanjikan tontonan yang dipenuhi emosi. Sang sutradara, Ryan Coogler, mampu menciptakan sebuah tribute yang sangat indah bagi Chadwick Boseman, pemeran Black Panther yang meninggal dunia pada 2020. Di sepanjang film, kehadiran Chadwick sangatlah terasa.

Rasa duka mendalam sudah terasa sejak film berdurasi 2 jam 41 menit ini dibuka. Bayangan T’Challa (Chadwick Boseman) terus menggelayuti film ini. Bahkan, adegan pembuka Marvel Studios berupa kolase karakter-karakter mereka pun diganti semuanya dengan adegan yang menampilkan T’Challa. Lagu tema Marvel Studios pun tidak ada. Yang ada hanyalah kesunyian.

Kematian T’Challa meninggalkan ruang kosong di Wakanda. Negara itu tidak lagi punya pelindung. Ratu Ramonda (Angela Bassett) akhirnya naik takhta. Ratu ini sangat tegas. Diselimuti duka, ratu memerintah tanpa basa basi dan tidak kenal ampun pada siapa pun yang berusaha menyakiti keluarganya. Meski punya ratu yang kuat, Wakanda tetap rapuh.

Baca Juga: Begini Reaksi yang sudah Nonton Black Panther: Wakanda Forever

Adik T’Challa, Shuri (Letitia Wright), sepertiya mengalami lima tahap duka cita. Dia masih dalam tahap denial meskipun bersikap seolah dirinya baik-baik saja dan sudah move on. Ketika dia masih diliputi dengan perasannya sendiri, Wakanda menghadapi ancaman baru dengan kemunculan Namor (Tenoch Huerta).

Namor terbukti menjadi ancaman yang sangat serius. Memerintah Talokan, sebuah kerajaan bawah laut dengan teknologi mutakhir, Namor telah bertekad untuk melindungi dan menyembunyikan keberadaan negaranya itu dari dunia luar. Jadi, ketika pemerintah asing, di sini Amerika Serikat, mulai mengusiknya, dia pun bertindak.
Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi

Foto: Marvel

Black Panther: Wakanda Forever mencampurkan konflik politik ini dengan drama kehilangan dan aksi bela negara yang seru. Sutradaranya, Ryan Coogler, berusaha dengan keras memberikan tontonan yang tidak hanya mengeksplorasi aksi, tapi juga menyuguhkan drama keluarga yang benar-benar menyentuh. Di antara entry lain di Marvel Cinematic Universe (MCU), Black Panther: Wakanda Forever adalah film dengan adegan menangis paling banyak. Dari awal sampai akhir film, bahkan adegan pascakreditnya, banjir air mata.

Usaha keras Ryan itu tentu bisa dimaklumi. Bukan perkara mudah mengisi posisi seorang protagonis yang karakternya disukai para penggemar. Chadwick meninggalkan lubang besar yang tidak dengan gampang bisa diisi siapa saja. Inilah di mana Ryan menunjukkan kualitasnya sebagai seorang sutradara. Ryan membuat karakter di film ini terlihat kuat dan punya ciri khas masing-masing tanpa harus menggantikan sosok T’Challa. Tidak ada karakter di Wakanda Forever yang dibuat mirip seperti T’Challa.

Inilah yang kemudian membuat karakter-karakter di Wakanda Forever menjadi diri mereka sendiri. Meski dibayangi kehadiran T’Challa, tapi mereka berhasil menunjukkan diri mereka sendiri. Angela Bassett, pemeran Ratu Ramonda, benar-benar menjadi sosok pemimpin yang mampu mengendalikan laju film ini. Aktingnya sebagai sosok Ratu yang tegas dan sebagai seorang ibu yang kehilangan anak benar-benar patut diacungi jempol. Dialah yang membuat kekuatan peranan wanita di dunia benar-benar terasa.
Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi

Foto: Marvel

Sementara, Wakanda Forever menjadi ajang perkembangan karakter Shuri. Dari seorang remaja yang hanya berkutat di laboratorium untuk mengembangkan teknologi, Shuri harus menghadapi kenyataan yang terpampang di hadapannya. Mau tidak mau, dia pun harus berdiri untuk membela rakyatnya. Meski berusaha tegar, pada akhirnya, Shuri harus menerima dan menyadari kalau dia sudah kehilangan orang yang dia kasihi.

Di film ini akan ada satu adegan Shuri yang cukup mengejutkan. Adegan ini akan terasa paralel dengan film pertama Black Panther. Ini adalah adegan penentu langkah Shuri ke depannya dan menunjukkan karakter Shuri yang selama ini dia pendam. Meski terasa berselimut misteri, tapi bagi penggemar yang menonton Black Panther pertama dengan cermat, pasti akan menemukan jawabannya.

Namor yang diperankan Tenoch Huerta benar-benar menjadi kekuatan yang mengintimidasi. Dia tidak perlu memasang muka sangar untuk terlihat menakutkan. Kata-katanya yang sopan dan senyumannya yang manis sudah cukup membuatnya terlihat sebagai ancaman. Belum lagi dia punya kekuatan yang luar biasa. Namor mungkin menjadi salah satu karakter overpowered di MCU. Meski punya banyak anak buah, tapi, Namor sudah bisa mengatasi satu pasukan besar seorang diri.

Perang antara Wakanda dan Talokan, meski sama-sama punya teknologi canggih, jauh dari kata mutakhir. Kedua suku itu lebih suka perang secara jarak dekat. Meski Wakanda punya pesawat canggih, tapi, kecanggihan itu masih bisa ditandingi kekuatan mentah dan supranatural pasukan Talokan. Pertempuran di antara kedua negara ini terasa epik, meski belum selevel dengan pertarungan di Avengers: Endgame.
Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi

Foto: Marvel

Wakanda Forever juga memperkenalkan karakter baru, yaitu Riri Williams yang diperankan Dominique Thorne. Perannya cukup lumayan di film ini. Meski begitu, Riri masih duduk di bangku penumpang karena Ryan Coogler lebih memfokuskan film ini pada perkembangan karakter Shuri. Wakanda Forever menjadi perkenalan bagi sosok Riri yang akan tampil di serialnya sendiri di Disney+. Meski tidak banyak dieksplorasi, Riri jelas menggantikan posisi Tony Stark di MCU sebagai pahlawan berzirah besi.

Karakter-karakter pendukung Black Panther seperti Okoye (Danai Guraira) dan M’Baku (Winston Duke) juga mendapatkan busur yang menarik. Penonton akan diajak melihat perkembangan Okoye di bawah kepemimpinan Shuri. Sementara, sisi lain M’Baku juga akan terlihat di sini. Meski tidak kentara, M’Baku sepertinya akan menjadi sosok kakak bagi Shuri.

Sementara, Nakia (Lupita Nyong’o) akan menjawab apa yang terjadi padanya setelah Black Panther pertama. Selamat dari jentikan jari Thanos, Nakia mengembara. Dia akan menjadi salah satu sosok kunci dalam perang antara Wakanda dan Talokan. Dia sepertinya akan punya peranan besar di MCU nantinya.

Satu hal lagi yang membuat Black Panther: Wakanda Forever adalah scoring music-nya. Di beberapa adegan emosional, film ini terasa sunyi. Tidak ada musik latar atau bahkan suara sekecil apa pun. Inilah yang membuat emosinya lebih terasa. Ryan sepertinya sengaja menempatkan kehampaan ini agar penonton lebih terkoneksi dengan kedukaan yang dirasakan rakyat Wakanda.
Review Black Panther: Wakanda Forever: Full Emosi, Padat Aksi

Foto: Marvel

Black Panther: Wakanda Forever adalah sebuah tribute yang indah bagi Chadwick Boseman. Film ini mencampurkan drama politik, rasa kehilangan, duka cita, amarah, dan dendam menjadi sebuah tontonan penuh emosi. Ada para karakternya menjalani lima tahap duka cita yang cukup signifikan.

Baca Juga: 5 Film yang Wajib Ditonton Sebelum Black Panther: Wakanda Forever

Sebagai penutup Fase 4 MCU, Wakanda Forever terasa seperti sebuah pamitan besar Chadwick yang pas disajikan untuk encore. Meski tidak punya kaitan dengan tema multiverse, Wakanda Forever mampu berdiri sendiri dan terasa sangat unggul dibandingkan proyek lain di Fase 4. Wakanda Forever juga menjadi film pertama dan proyek kedua MCU yang mengonfirmasi keberadaan mutan di MCU. Keberadaan mutan di MCU sudah dikonfirmasi sebelumnya lewat Ms. Marvel.

Black Panther: Wakanda Forever tayang di bioksop mulai Rabu (9/11). Ada satu adegan pascakredit di film ini yang mengejutkan dan menyentuh. Selamat menyaksikan!



(alv)
Share: