CERMIN: Diplomasi Masakan

CERMIN: Diplomasi Masakan
Serial Julia menunjukkan keunikan sosok protagonis yang berjuang lewat hasratnya pada masakan. Foto/HBO Go
JAKARTA - Tahun 1997. Itu menjadi tahun kedua saya belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, dan saya 'berkenalan' dengan chef laki-laki bernama Rudy Choirudin melalui program Selera Nusantara.

Sebelumnya saya, sebagaimana banyak orang di negeri ini, mengidentikkan dunia masak-memasak sebagai dunianya perempuan. Rudy menerobos persepsi itu dengan programnya yang disiarkan di RCTI. Saya terkejut melihat betapa lihainya Rudy mengolah masakan dari seluruh Indonesia, juga kagum dengan betapa cakapnya ia mengenali bumbu demi bumbu khas nusantara.

Dari semua itu, ada satu hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya: betapa masakan bisa menerobos batas-batas wilayah. Saya yang lahir dan besar di Makassar mulai mengenali masakan-masakan khas dari berbagai daerah melalui program ini.

Berpuluh tahun sebelumnya, tepatnya pada 1963, Amerika tersentak dengan kehadiran Julia Child. Seorang ibu rumah tangga biasa yang kenes, bertubuh tinggi besar dan berwajah menyenangkan. Julia sudah tak lagi muda tapi ia masih punya mimpi. Pada usianya yang ke-50, ia punya mimpi besar: memperkenalkan masakan Prancis agar bisa diolah dengan mudah oleh ibu rumah tangga di seluruh Amerika.

CERMIN: Diplomasi Masakan

Foto: HBO Go

Julia yang tak pernah dilatih untuk menjadi bintang televisi dengan mudah menaklukkan hati pemirsa Amerika. Dengan segala kekenesannya dan ketidaksempurnaannya, ia mengolah masakan demi masakan agar bisa ditiru dengan mudah oleh para istri untuk dihidangkan kepada suaminya saat makan malam. Julia hadir di jutaan ruang tamu di Amerika dan resep masakannya menjadi favorit di ruang makan. Bahkan hingga ke restoran.

Melalui serial Juliayang tayang di HBO Go, kita melihat Julia bergulat dengan mimpi dan urusan rumah tangganya. Kita juga melihat bahwa awalnya Paul, suaminya, tak mendukung mimpi Julia sepenuhnya. Tapi Julia tak gentar. Ia percaya mimpi patut diperjuangkan.

Bagi Julia, juga bagi saya, mimpi adalah salah satu hal yang membuat kita bangun dan bersemangat pada pagi hari. Tak ada yang bisa membatasi mimpi, tak juga usia. Jika Julia mengejar mimpi pada usia 50, saya memulai karier baru sebagai sutradara pada usia 40.

Memulai segala sesuatu dari awal, mempelajari banyak hal dan terus menantang diri untuk berkembang tentu tak mudah pada usia yang tak lagi muda. Namun Julia, juga saya, mungkin punya satu hal: ketabahan.

CERMIN: Diplomasi Masakan

Foto: HBO Go
halaman ke-1
Share: