Film Beyond The Lake Trunyan, Kapal yang Berlayar ke Negeri Kematian

Film Beyond The Lake Trunyan, Kapal yang Berlayar ke Negeri Kematian
Beyond The Lake Trunyan membicarakan kematian dan Tuhan lewat analogi perahu. Foto/GoPlay
JAKARTA - Pernahkah teman-teman secara sengaja mengambil waktu untuk membicarakan mengenai kematian dengan orang-orang terdekat yang dikasihi?

Apa yang akan mereka lakukan seandainya kita lebih dulu berpulang? Bagaimana prosesi kematian itu akan diurus? Ke mana nantinya roh kita akan pergi?

Topik itulah yang tengah dibicarakan oleh Yoga dan bapaknya saat mendayung perahu berdua menuju ke Trunyan, kampung halaman sang bapak. Seperti sudah diketahui oleh dunia internasional, desa yang terletak di kabupaten Bangli ini terkenal dengan prosesi kematian yang berbeda dengan di wilayah Bali lainnya.

Mengingat ibunya bukan orang Trunyan, Yoga pun lantas bertanya-tanya, adat manakah yang akan digunakan untuknya kelak seandainya ia berpulang. Dialog berbahasa daerah yang digunakan oleh keduanya saat berbincang membuat Beyond The Lake Trunyan yang tayang di GoPlay dan berdurasi hampir 15 menit ini terkesan lebih natural.

Film Beyond The Lake Trunyan, Kapal yang Berlayar ke Negeri Kematian

Foto: GoPlay

Bagi sebagian orang, pembicaraan mengenai kematian bisa membuat buku kuduk berdiri. Di sisi lain, ada pula yang beranggapan kalau topik percakapan ini adalah sesuatu yang tabu dan tidak patut dilakukan karena bisa mengundang terjadinya hal-hal buruk. Namun, tentunya tak seorang pun bisa memungkiri bahwa pada saatnya nanti kita semua pasti akan kembali menghadap Sang Pencipta.



Baca Juga: Film Pendek The Fiction Master: Jangan Asal Comot Kesempatan!

Pemilihan desa Trunyan sebagai latar film ini rasanya benar-benar pas. Posisinya yang terletak di seberang Danau Batur menjadi representasi yang tepat dan apik mengenai keberadaan Negeri di Seberang Lautan Kematian tersebut. Adegan Yoga mendayung perahu menuju ke Trunyan pun merupakan metafora yang menarik untuk menggambarkan manusia yang tengah menuju ke alam sana.

Film ini juga sekaligus mengungkap keistimewaan tata cara pemakaman di desa yang terletak di sisi timur Danau Batur tersebut. Berbeda dengan masyarakat Bali di wilayah lain yang melakukan Ngaben atau upacara pembakaran jenazah, warga Trunyan menerapkan tradisi Mepasah.
halaman ke-1
Share: