Aktivis Tuli Surya Sahetapy Ungkap Caranya Jalani Kuliah di Kampus Umum

Aktivis Tuli Surya Sahetapy Ungkap Caranya Jalani Kuliah di Kampus Umum
Aktivis tuli Surya Sahetapy mengaku tak kesulitan menjalani perkuliahan di kampus umum di New York. Foto/Instagram @suryasahetapy
JAKARTA - Pendiri Handai Tuli Surya Sahetapy kini sedang melanjutkan studinya di International-Global Studies, Rochester Institute of Technology (RIT), New York.

Dalam acara daring ”Ramadan and the Daily Life of Students with Disabilities in the U.S.” yang diadakan oleh At America, Surya pun sempat menceritakan pengalamannya sebagai seorang mahasiswa tuli dalam menjalani perkuliahan di kampus swasta tersebut.

Selama berkuliah, Surya mengaku diberi banyak akses yang memadai, salah satunya adalah didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI) saat melakukan perkuliahan di kelas. Rochester dikenal sebagai kota yang ramah untuk orang dengan disabilitas , termasuk tuli. Begitu juga dengan RIT. Surya mengatakan, ada sekitar 1200 mahasiswa tuli di kampusnya. Mereka diberikan akses JBI dan ketik cepat secara lebih personal untuk kegiatan dalam kampus .

Sedangkan untuk kegiatan luar kampus, bantuan JBI kampus tidak bisa digunakan. Jadi, saat harus berbincang dengan orang yang belum memahami bahasa isyarat, teman tuli bisa menggunakan media tulisan atau bahasa tubuh umum sebagai alternatif.



Sebagai seorang aktivis tuli asal Indonesia yang tinggal di Jakarta, Surya tentunya sudah terlebih dahulu menguasai bahasa isyarat di Jakarta dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Setelahnya, barulah ia mempelajari American Sign Language (ASL).

Aktivis Tuli Surya Sahetapy Ungkap Caranya Jalani Kuliah di Kampus Umum

Foto: tangkapan layar oleh Sevilla Nouval Evanda

Sebelum kepindahannya ke Amerika, Surya menganggap ASL sebagai bahasa isyarat khusus untuk berbincang. Namun, rupanya ASL juga dipakai dalam kegiatan perkuliahan, termasuk praktikum.



“Jadi, ada berbagai tingkatan. Saat berbincang, tingkatannya berbeda (dengan pemakaian di kampus),” jelas Surya, menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh (JBI).

Sebab itulah, Surya perlu mempelajari ASL secara bertahap untuk membantunya berkomunikasi di AS. Di kampusnya, ia mengaku diberi akses untuk mempelajari ASL tingkat dasar, serta tingkat satu dan dua.

“Saya juga dapat ASL Linguistic. Lalu, ada (materi) struktur bahasa isyarat Amerika dan pendidikan Amerika,” tambah anak dari pasangan penyanyi Dewi Yull dan aktor Ray Sahetapy itu.

Baca Juga: 8 Masalah yang Sering Dialami Mahasiswa dan Solusinya

Seperti halnya Indonesia, Amerika juga memiliki berbagai variasi bahasa isyarat. Meski begitu, ASL tetaplah menjadi bahasa isyarat Amerika yang telah menyebar.

“Memang, tidak semua orang bisa bahasa isyarat. Tapi, mereka sudah mengenalnya. Polisi pun, beberapa, telah menguasai bahasa isyarat,” tutur Surya.

Aktivis Tuli Surya Sahetapy Ungkap Caranya Jalani Kuliah di Kampus Umum

Foto:Mikro Arayata Photography/Instagram@suryasahetapy

Menurut Surya, JBI dalam perspektif Indonesia hanyalah digunakan untuk teman tuli. Padahal, JBI pada dasarnya adalah 'jembatan' bahasa yang membantu menerjemahkan perkataan antara orang tuli dan dengar.

“JBI bukan pendamping untuk tuli, tapi jembatan tuli dan dengar. Kalau ada satu orang dengar di komunitas tuli, JBI yang akan mendampingi orang dengar yang hanya satu itu,” kata Surya.

Surya menerangkan, kepekaan lingkungan sekitar di Rochester terhadap bahasa isyarat juga cukup. Dalam lingkup kampus, dosen dan profesor telah dibekali pelatihan tentang bahasa isyarat. Jadi, bantuan dari JBI tidak terlalu diperlukan di kampus.

Terkait tanggapnya pemerintahan Amerika terhadap teman tuli, Surya berpendapat masa kepresidenan sekarang lebih baik dibanding sebelumnya. Ia mengaku, pemerintahan kini lebih cepat tanggap menyediakan JBI dalam acara-acara mereka.

“Presiden Amerika melihat peran bahasa isyarat Amerika dan bahasa Inggris (yang) sejajar. Beliau menghargai peran bahasa isyarat Amerika ini,” tuturnya.

Baca Juga: 10 Keterampilan Bertahan Hidup yang Mesti Anak Muda Kuasai

Sementara di Indonesia, menurut Surya, masyarakat saat ini masih kurang mengenal dan menghargai dua jenis orang tuli, yaitu mereka yang bisa bahasa isyarat dan tidak bisa bicara, serta mereka yang tak bisa melakukan keduanya.

Surya berharap, ke depannya, pemerintah Indonesia pun bisa lebih dan terus meningkatkan kesadaran akan teman tuli agar terbentuk sikap saling menghargai dan merasa sejajar. “Perlu penyadaran tentang ketulian,” ujarnya.

Sevilla Nouval Evanda
Kontributor GenSINDO
Politeknik Negeri Jakarta
Instagram: @vandailla


(ita)
Share: