Film

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya
Film pendek Juki dan Sendal Gacoannya menggambarkan momen masa kecil yang seru dan kocak. Foto/Genflix
Jakarta - Film pendek "Juki dan Sendal Gacoannya" adalah film yang kita butuhkan saat krisis seperti sekarang. Ringan, kocak, dan bikin kita inget dengan masa kecil yang seru dan indah.

Siapa pun yang pernah menghabiskan masa kecilnya dengan tinggal di kampung atau perumahan padat penduduk, pasti bakal relate dengan Juki, karakter utama dalam film ini.

Setiap hari berkeringat, bermain bersama teman-teman di luar rumah. Main mainan tradisional, dari petak umpet sampai tekong, atau naik sepeda sampai jauh dari rumah. Baru akan pulang kalau azan Magrib berkumandang atau teriakan orang tua sudah terdengar.

Itulah yang terlihat pada Juki (Rasya Pratama), bocah tambun berusia 10 tahun. Hobinya adalah main tekong bareng teman-teman sekampungnya. Tapi kebiasaan ini gak bisa dilakukan sejak dia kehilangan sandalnya saat salat di musola.



Sandal dengan cukilan berbentuk petir mirip karakter superhero The Flash itu sebenarnya udah buluk alias butut. Udah layak masuk ke tempat sampah.

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Foto: Genflix

Tapi sandal itu kayaknya punya tempat tersendiri di hati Juki, sampai-sampai dia rela mencari sandal itu seharian, sampai malam, meski emaknya mengomel tak keruan. (Baca Juga:Hal-hal yang Paling Menguras Emosi dalam The Haunting of Bly Manor)



Sampai akhirnya, Juki menemukan fakta bahwa sandal itu ternyata diambil oleh Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) - atau anak-anak dulu menyebutnya 'orang gila'.

Sejak itu, Juki pun bertekad mengambil sandal yang menjadi haknya, meskipun dia mesti bertarung sampai titik darah penghabisan dalam menghadapi 'orang gila' yang mengerikan.

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Foto: Genflix

Film pendek "Juki dan Sendal Gacoannya" jelas lucu, mengingatkan kita akan masa kecil yang penuh warna. Apalagi sutradara Kenny Gulardi sangat pas memotret semua atribut tentang kehidupan di perumahan padat penduduk.

Mulai dari lanskap kampung dengan jembatan dan kalinya, gang sempit, kucing liar kurus kering, hingga pilihan kata-kata yang sering dianggap kasar oleh mereka yang 'intelek'. Tapi memang begitulah kehidupan di area kampung; keras, tapi banyak juga serunya.

Didukung akting yang natural (juga komikal) dari seluruh pemainnya, serta gimmick visual a la komik dalam penceritaannya, film pendek ini benar-benar sempurna untuk unsur komedinya.

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Foto: Genflix

Bukan sekadar hiburan, "Juki dan Sendal Gacoannya" secara gak langsung juga ngajak kita untuk bercermin dengan cara bergaul anak-anak.

Mereka boleh jadi bicara dengan kata-kata kasar, mungkin bisa dibilang bullying verbal, tapi tak ada karakter lemah dalam film pendek ini. (Baca Juga:Review Tunnel Indonesia Season 1: Sajian Detektif Lokal yang Bukan Sekadar Remake Biasa)

Juki, misalnya. Dengan tubuh gemuknya, dia jadi sasaran empuk untuk dikata-katai. Teman-temannya menghinanya dengan sebutan 'lemak jahat'. Tapi Juki bukan karakter protagonis di sinetron yang menangis tiap kali dizalimi. Juki melawan balik, tentunya dengan kata-kata kasar juga.

Tapi apakah gara-gara itu mereka langsung ribut sampai menyebabkan riot di kampungnya? Tentu gak. (Baca Juga:

Julukan-julukan buruk itu adalah makanan sehari-hari anak kampung, dan dalam taraf tertentu, itu menunjukkan kedekatan dengan teman-teman mainnya. Karena tiap kali ada teman yang butuh bantuan, pasti mereka bakal menolong temannya seberapa pun merepotkannya. Itulah yang terjadi pada Juki saat dia dikejar-kejar 'orang gila'.

Film: Nostalgia Kocak Masa Kecil Bareng Juki dan Sandal Buluknya

Foto: Genflix

Hinaan gak lantas menimbulkan prasangka buruk dalam kepala anak-anak tersebut. Mereka menganggapnya sebagai hal yang biasa aja, bumbu-bumbu seru dalam pertemanan untuk nantinya jadi bahan tertawaan saat dikenang pada masa dewasa. Hal ini berlaku juga pada hubungan Juki dan emaknya yang supercerewet.

Bukan ingin menggampangkan masalah, tapi cara bergaul Juki dan teman-temannya tersebut - layaknya hubungan pertemanan anak-anak - adalah hubungan yang polos.

Detik ini mereka bisa musuhan, tapi detik berikutnya, mereka bisa tertawa bersama. Anak-anak adalah makhluk yang tak mudah berprasangka dan cepat move on. Kita yang sudah dewasa, mungkin perlu juga mengambil lagi sifat tersebut dalam hidup kita sekarang.

Kamu bisa menonton film "Juki dan Sendal Gacoannya" di layanan streaming Genflix dalam kategori "Film Pendek Indonesia dari ISP". ISPatau Indonesia Sinema Persada adalah rumah produksi yang didirikan oleh produser dan sutradara Ichwan Persada.

Yang mau nonton gratis filmnya, kamu bisa pantau akun Instagram@gen_sindo. (Baca Juga:Rekomendasi Serial Barat, Korea, dan Lokal dari Sineas Indonesia)

Film: Juki dan Sendal Gacoannya
Pemain: Rasya Pratama, Sam Ari Wijayati, Radja King, Risky Haryanto, Fahrul Roji

Sutradara: Kenny Gulardi
Penulis Skenario: Rizky Arya/Kenny Gulardi
Produksi: FFTV IKJ 2019



(it)
Artikel Terkait
TULIS KOMENTAR ANDA!
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...

    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel dalam bentuk word dengan panjang tulisan minimum 4000 karakter.

    Sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.

    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke :

    gensindo[dot]mail[at]gmail[dot]com
Terpopuler
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss