Peran Fintech dalam Mendukung Terciptanya Ekonomi yang Inklusif

Peran Fintech dalam Mendukung Terciptanya Ekonomi yang Inklusif
Fintech bisa berperan mendukung terciptanya ekonomi yang inklusif. Foto/Shutterstock
JAKARTA - Dalam beberapa tahun ini istilahfinancial technology atau fintech malang melintang dan ramai menjadi bahan pembahasan.

Dalam Pasal 1 Angka 1 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017, teknologi finansial diartikan sebagai “penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.”

Secara sederhana, fintech adalah inovasi jasa keuangan yang mengakomodasi masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan.

Memahami Iklim Fintech Indonesia

Fintechmuncul bersama dengan berkembangnya teknologi informasi, sepertismartphone dan internet, yang memungkinkan distribusi jasa finansial secara lebih masif, cepat, serta murah. Sebagai negara dengan penetrasi internet yang kian meningkat dan kekuatan ekonomi yang besar, Indonesia adalah lahan yang subur bagi pengembanganfintech.

Menurut data Bank Dunia, pada 2021 Indonesia menduduki posisi ke-16 ekonomi terbesar di dunia dengan GDP sebesar USD1,18 juta. Sedangkan pada 2019, persentase pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 51,5% atau sebesar 132,7 juta orang. Potensi pasarfintechjuga tercermin dari 50 juta UMKM yang 70% di antaranya belum memiliki akses terhadap layanan finansial dari bank.

Perkembangan fintech di Indonesia juga senantiasa mengalami kenaikan. Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penggunafintechdi Indonesia pada 2007 masih berada di kisaran 7%. Kemudian pada 2011 mengalami kenaikan menjadi 20%, lalu 36% pada 2014, hingga berlipat ganda menjadi 78% pada 2017.

Dengan bonus demografi yang menanti pada 2030 mendatang, fintech dan ekonomi Indonesia terlihat memiliki masa depan yang menjanjikan.

Peluang dan Tantangan Fintech dalam Menciptakan Ekonomi yang Inklusif

Melalui kemudahan aksesnya,fintechmampu menjangkau pihak-pihak yang tidak tersentuh oleh bank dan layanan finansial konvensional. Pada saat bersamaan menyediakan pelayanan yang lebih baik bagi mereka yang sudah menjadi nasabah. Oleh karena itufintechmenjadi solusi untuk menjembatani jurang ketimpangan finansial demi mencapai ekonomi yang inklusif.

Walaupunfintechmembuka peluang yang besar terhadap stabilitas ekonomi, hal ini perlu dilakukan bersama dengan peningkatan literasi keuangan digital agar masyarakat sebagai pengguna memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjamin kenyamanan dan keamanan bertransaksi secara digital. Pasarfintechyang subur pun menuntut kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelolanya.

Dua jenisfintechyang paling digemari masyarakat Indonesia adalahpeer-to-peer lending(P2P) dane-paymentatau pembayaran digital. Pada 2017, nilai transaksi P2P mencapai angka USD1,62 juta. Walaupun secara konsisten mengalami kenaikan, tapi perkembangan sektorfintechmasih terbatas pada wilayah Jawa.

Hal ini memang wajar terjadi, mengingat Jawa adalah episentrum perekonomian dan arus pergerakan modal serta orang di Indonesia. Akan tetapi, sebagai sebuah solusi bagi terciptanya ekonomi inklusif,fintechharus benar-benar menjadiinklusif.

Fintech Kini dan Nanti

Fintechmenawarkan alternatif terhadap mekanisme transaksi ekonomi konvensional melalui pengurangan interaksi langsung. Fintech mengubah transaksi keuangan melampaui batas ruang dan waktu. Pandemi Covid-19 juga berperan sebagai dorongan yang dapat mengakselerasi pertumbuhan iklimfintechIndonesia.

Terbatasnya interaksi dan ruang gerak masyarakat selama pandemi memberikanfintechkesempatan untuk unjuk kemampuan dalam melayani kebutuhan transaksi masyarakat.

Inovasifintechkarya anak bangsa yang menjaditrending topicdantrendsetteradalah QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard. QRIS menstandarisasi serta mengintegrasi produkfintechyang telah ada sebelumnya, menciptakan sebuah tatanan transaksi digital yang lebih solid dan inklusif. Bersama dengan P2P, inovasi-inovasifintechini telah menjadi pilar penopang pemulihan ekonomi pascapandemi.

Selama perhelatan G20 2022 di Indonesia, fintech terus menjadi sorotan. Bersamaan dengan itu dihelat pula Indonesia Fintech Summit (IFS) ke-4 sebagai sebuah forum bagi para pelakufintechdomestik, internasional, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga keuangan untuk saling bertemu dan merumuskan formula demi mempercepat pemulihan ekonomi melaluifintech.

Saat ini Indonesia memang masih disibukkan dengan upaya berbenah dari sisa-sisa resesi ekonomi selama pandemi, tapi perkembangan iklim fintech yang lahir dari masa sulit ini akan menjadi fondasi kokoh bagi ekonomi Indonesia yang lebih tahan bantingdan inklusif ke depannya.

GenBI
Firstly Erzsa
Universitas Udayana



(ita)
Share: