CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia

CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia
Film dokumenter Pesantren menunjukkan wajah Islam yang terbuka dan kritis. Foto/Negeri Films
JAKARTA - Tahun 2006. Saya baru setahun merantau di Jakarta dan diajak bertualang ke pesantren melalui program JIFFest Travelling.

Jakarta International Film Festival (JIFFest) punya peran penting dalam hidup saya. JIFFest lah yang menyebabkan saya jatuh cinta lagi dengan dunia film dan akhirnya menetapkan hati untuk fokus di dunia tersebut. Salah satu program JIFFest adalah JIFFest Travelling yang bertualang ke beberapa kota dan pada 2006 kami mengunjungi sejumlah pesantren.

Di sini untuk pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan dunia pesantren. Saya yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal [kecuali melalui mata pelajaran Agama Islam di sekolah] akhirnya bisa melihat langsung sebenar-benarnya pesantren menjalankan rutinitasnya.

Lebih dari 10 tahun setelahnya, saya diundang menjadi pembicara dalam seminar film yang diadakan Pesantren Gontor Putri Ngawi. Meski sebelumnya sudah pernah bersentuhan dengan dunia pesantren, saya terkejut karena diundang oleh pesantren khusus perempuan. Kejutan-kejutan lain menanti saya ketika menginjakkan kaki dan berinteraksi dengan para santriwati di sana.

CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia

Foto: Negeri Films

Pesantren Gontor Putri Ngawi adalah dunia yang aktif. Daripukul 4 pagi semuanya sudah terbangun dari mimpi indahnya dan bersiap melakukan aktivitas seharian penuh. Jangan berpikir bahwa aktivitas yang dilakukan cuma mengaji, shalat, dan semacam kajian saja.

Saya melihat langsung betapa banyak sekali kegiatan dilakukan santriwati bahkan hingga jelang dinihari. Semua dilakukan dengan penuh semangat dan energi yang positif.

Baca Juga: CERMIN: Kebangkitan Genre Superhero Indonesia

Sejak itu pandangan saya tentang pesantren berubah. Sebagaimana dunia bergerak cepat, begitu pula perubahan terjadi di pesantren. Adaptasi dilakukan agar pesantren selalu bisa mengikuti zaman. Perubahan diikuti sepanjang masih berada di koridor Al-Qur’an dan hadis. Film Pesantrenmemperlihatkan itu semua sepanjang 105 menit durasinya.

Shalahuddin Siregar memakai pendekatan observasional sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang cukup lengkap sekaligus intim dan dekat tentang yang sesungguhnya terjadi di Pondok Kebun Jambu Al-Islamy. Kita diajak masuk hingga ke ruang tidur para santri untuk melihat keseharian mereka, kegelisahan mereka dan yang ada di benak mereka.

CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia

Foto: Negeri Films

Pondok Kebun Jambu Al-Islamy yang terletak di Cirebon ini punya sejarah yang menarik. Salah satunya karena dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Salah duanya karena menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia pertama pada 2017.

Sejarah yang menarik ini berpilin dengan bagaimana Al-Qur’an dan hadis dikaji secara mendalam, ditelaah tak saja secara tekstual tapi juga dipelajari sebab musababnya. Juga bagaimana para guru mereka dengan pemikiran terbuka memberikan pandangan menarik seputar kajian gender kepada para santrinya.

Banyak sekali pemikiran menarik yang terlontar sepanjang film. Salah satu guru, Kyai Husein Muhammad, mencoba menawarkan perspektif gender melalui kajian atas surat An-Nisa 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).”

Tak kurang banyak yang membaca ayat ini sebagai “keunggulan laki-laki atas perempuan dari segi apa pun” tapi tak memperhatikan kata “sebahagian”. Namun sang guru dengan bijak menafsirkannya bahwa bisa jadi sebagian laki-laki memang lebih unggul dari perempuan tapi bisa saja sebagian perempuan juga lebih unggul dari laki-laki. Ayat ini memang sempat disetir oleh beberapa pihak yang tak menyetujui perempuan sebagai pemimpin dalam sejumlah sektor.

CERMIN: Belajar Islam yang (Memang) Memanusiakan Manusia

Foto: Negeri Films

Di lain kesempatan, di hadapan seorang pengawas santriwati yang menggeluti dunia seni, pimpinan pesantren, Nyai Hj Masriyah Amva, mengutip sebuah hadis: “Sesungguhnya Allah Maha-indah dan mencintai keindahan.” Beliau mengaitkan dengan seni yang diajarkan di pesantren termasuk seni angklung, dan bahwa seni itu termasuk hal yang indah dan melembutkan hati.

Meski dikemas secara sederhana, Shalahuddin mencoba bereksperimen dengan pengemasan gambar. Dengan pemaparan soal kajian gender dalam adegan sebelumnya, pemaparan tersebut terasa lebih nyaring bunyinya ketika sutradara menempatkan gambar kemeriahan pentas Kongres Ulama Perempuan Indonesia berdampingan dengan adegan para laki-laki sedang mencuci piring bekas hajatan acara tersebut. Kajian itu tak sekadar diucapkan tapi langsung dipraktikkan.

Baca Juga: 5 Alasan untuk Nonton Weak Hero Class 1, Drakor yang Lagi Hype

Yang paling penting, kita melihat para guru menawarkan pemikiran terbuka kepada para santri bahwa siapa saja boleh berpendapat dan siapa saja juga boleh tak setuju dengan suatu pendapat. Namun bukan berarti ketidaksetujuan adalah tanda permusuhan. Karena sesungguhnya hal ini sekedar memperlihatkan bahwa Al-Qur’an dan Hadis tak sekadar dibaca tapi amun juga dikaji secara mendalam.
halaman ke-1
Share: