Suka Bikin Nostalgia, Ini Potret Aroma dari Buku hingga Film

Suka Bikin Nostalgia, Ini Potret Aroma dari Buku hingga Film
Aroma bisa membawa seseorang teringat pada hal tertentu, dari peristiwa, tempat, hingga seseorang. Foto/Getty Images
JAKARTA - Aroma atau bau memang unik. Dia bisa membuat kita langsung teringat pada sesuatu atau momen tertentu.

Entah itu pada toko buku atau perpustakaan dengan aroma tumpukan buku lama atau baru. Atau saat hujan berhenti, ketika aroma tanah yang basah akan menyeruak melalui udara yang dikenal dengan nama petrichor.

Indera penciuman menjadi indera pertama yang terbentuk pada janin. Aroma pun menjadi jendela pertama kita memahami dunia. Nah, berikut adalah hal-hal terkait aroma yang tergambar dalam beberapa karya.

1. AROMA DALAM NOVEL "AROMA KARSA"

Suka Bikin Nostalgia, Ini Potret Aroma dari Buku hingga Film

Foto: Gramedia

Novel karya Dee Lestari ini menceritakan salah satu tokoh bernama Jati Wesi yang punya indera penciuman luar biasa. Jati bahkan dijuluki Si Hidung Tikus. Dia merupakan salah satu dari banyaknya anak tanpa orang tua yang hidup di TPA Bantar Gebang. Tumbuh di sana membuat Jati terbiasa membaui berbagai aroma. Mulai dari aroma sampah sampai mayat manusia.

Jati mengungkapkan setiap aroma yang Ia baui lewat kalimat-kalimat dalam beberapa buku catatan miliknya. Ada delapan buku catatan serupa, tebal, dan bersampul batik. Jati memberi judul masing-masing buku dengan tiga buku berjudul "Aroma Tunggal" yang diberi nomor 1 sampai 3. Tiga buku lagi berjudul "Aroma Campuran", yang diberi nomor juga 1 sampai 3. Satu buku ditulis hanya berjudul insial huruf “A”, dan satu buku yang hanya diberi gambar tengkorak pada sampulnya.

Baca Juga: Simak dan Baca 7 Rekomendasi Buku dari RM BTS Ini

2. AROMA DALAM FILM "PARASITE"

Suka Bikin Nostalgia, Ini Potret Aroma dari Buku hingga Film

Foto: CJ Entertainment

Film garapan sutradara Bong Joon-ho ini berhasil memenangkan piala Oscar sebagai film terbaik pada 2020. Kisahnya tentang kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat lewat dua keluarga yakni keluarga Kim Ki-taek dan keluarga Park Dong-ik.

Keluarga Kim Ki-taek tinggal di sebuah rumah yang lubang kotorannya lebih tinggi dibandingkan ruangan lain. Ini membuat aroma tubuh mereka terasa tidak sedap buat orang lain. Setiap hari yang menjadi perhatian mereka hanyalah cara mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak terpikir oleh mereka untuk membeli parfum, karena akses internet saja mereka harus mencuri dari tetangga.

Alhasil aroma yang melekat di tubuh mereka digambarkan seperti aroma lobak busuk, selokan, bahkan kotoran. Sedangkan keluarga Park Dong-ik merupakan keluarga kaya dengan rumah yang untuk masuknya saja harus menaiki tangga terlebih dahulu. Rumah mereka juga punya akses air bersih, dan sirkulasi udara yang baik. Mereka dapat memilih aroma seperti apa yang akan melekat di tubuh mereka. Membeli berbagai parfum bermerek dengan harga tinggi, tidak akan menjadi masalah untuk mereka.

Baca Juga: 5 Film dengan Jalan Cerita Unik, Bikin Ngeri hingga Gemas!

3. AROMA SEBAGAI POTRET KELAS SOSIAL

Suka Bikin Nostalgia, Ini Potret Aroma dari Buku hingga Film

Foto: Pixabay

Biasanya, ada produsen yang membuat parfum tiruan dari merek-merek terkenal dengan pasar masyarakat kelas menengah ke bawah. Dalam novel "Aroma Karsa", salah satu pekerjaan Jati adalah peracik parfum. Bukan untuk parfum merek-merek terkenal, tapi parfum tiruan yang dijual untuk masyarakat Bantar Gebang. Jati bekerja di sebuah ruko milik Khalil yang terletak di dekat pasar.

Aroma yang menyeruak di setiap sudut kehidupan manusia memang bisa membawa orang yang menciumnya ke suatu tempat, kenangan, peristiwa, kejadian, hingga pengalaman. Namun di sisi lain, aroma yang melekat di tubuh manusia bisa menunjukan kelas sosial mereka.

Masyarakat kelas sosial atas bisa memilih aroma tubuh mereka dengan membeli parfum bermerek. Sedangkan masyarakat kelas sosial menengah dan rendah hanya mampu meniru, bahkan hanya mengandalkan aroma alami yang berasal dari lingkungan sekitar mereka.

Septi Kurnia
Kontributor GenSINDO
Universitas Negeri Jakarta
Instagram: @septikurnia28


(ita)
Share: