Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos

Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos
Film Pendek Laka menyajikan kisah ironi kehidupan dan keluarga di kota besar. Foto/FFTV IKJ 2017
JAKARTA - Seorang remaja ngebet ingin punya iPhone supaya merasa setara dengan teman-teman sekolahnya. Padahal ayahnya sehari-hari cuma mampu makan di warteg dengan menu tempe saja.

Si remaja adalah anak SMA bernama Viola (Silma Rahmaina). Merasa galau karena ponselnya paling butut di antara teman-teman high class-nya, dia pun selalu mengejar-ngejar ayahnya untuk segera dibelikan iPhone yang sama seperti teman-temannya.

"Cuma ini, kok, Yah, gak minta yang lain," kata Viola di depan ayahnya, Kusnandar (Franky Chandra), yang matanya menatap acara ceramah agama di televisi, tapi pikirannya seperti melayang ke mana-mana. (Baca Juga: Zendaya Berulang Tahun, Ini 5 Penampilan Terbaiknya dalam Film )

Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos




Gerah selalu dituntut anaknya, Kusnandar pun, seperti tertulis di sinopsis "Laka", terpaksa "harus mengorbankan sesuatu".

Dalam durasi yang sangat singkat, cuma 9 menit, film "Laka" berhasil menggambarkan dilema sang ayah saat dia "harus mengorbankan sesuatu".

Dilema yang dihadapinya jadi menarik, karena kita sebagai penonton diberi latar belakang si ayah. Dalam satu adegan, Kusnandar digambarkan sedang salat.



Dalam satu-dua adegan lainnya, tersirat juga bahwa dia adalah orang yang senang atau rutin mendengar ceramah agama di televisi. (Baca Juga: Bukan Riddler, Ini Kemungkinan Penjahat Utama dalam The Batman )

Singkatnya, Kusnandar tergolong orang yang religius. Pertanyaannya adalah, apakah keimanannya cukup untuk mencegahnya "mengorbankan sesuatu" demi iPhone idaman anaknya?

Film Pendek Laka: Gagapnya Anak Muda Saat Ngebet Pansos


Sebelum bisa menarik kesimpulan atas pertanyaan tersebut, penonton lebih dulu diajak gemas dengan berbagai adegan yang melibatkan Kusnandar, dalam prosesnya mengambil keputusan atas dilema tersebut.

Sementara Viola, dia adalah gambaran remaja yang umum terjadi di kota besar. Punya gaya hidup tinggi, padahal bujet (keluarga) pas-pasan.

Dalam "Laka", pembuat filmnya tampaknya ingin menampilkan ironi ini. Hidup di kota besar bukan berarti pikiran seseorang otomatis bisa terbuka, tapi malah bisa membuatnya terjerumus untuk fokus ke hal-hal yang cuma tampak mata saja, remeh nan receh.
halaman ke-1 dari 2
Share: