Tiga Teori dari Ilmuwan untuk Jelaskan Makna Deja vu

Jum'at, 05 Juni 2020 - 14:00 WIB
Deja vu beberapa kali kita alami, tapi sampai kini ilmuwan belum bisa memastikan apa yang terjadi saat kita mengalaminya.Foto/Roos Koole, Getty Images
JAKARTA - Pernah gak kamu mengalami dejavu? yaitu kondisi yang terasa familier atau kamu merasa pernah mengalaminya, padahal kenyataannya itu peristiwa pertama yang kamu alami.

Contohnya saat kamu ke sebuah restoran untuk makan kerang, dan duduk di tempat tertentu. Lalu kamu merasa pernah mengalami hal tersebut. Tapi ingatan itu gak mungkin berdasarkan kejadian masa lalu, karena kamu belum pernah makan di situ sebelumnya.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Sejak Emile Boirac memperkenalkan deja vu sebagai istilah bahasa Prancis yang berarti “pernah melihat”, lebih dari 40 teori mencoba menjelaskan fenomena ini.

Kejadian deja vubiasanya singkat dan muncul tanpa diduga. Mengutip dari TedEd seperti yang disampaikan oleh salah satu pendidiknya, Michael Molina, nyaris mustahil buat ilmuwan untuk merekam dan mempelajarinya.





Foto: Shutterstock

Para ilmuwan gak mungkin cuma duduk menunggu deja vu terjadi, karena deja vu gak punya wujud fisik. Dalam penelitian, deja vu digambarkan sebagai sensasi atau rasa. Karena kurangnya bukti nyata, ada banyak pula spekulasi tentang deja vu.

Berkat kemajuan teknologi neuroimaging dan ilmu psikologi kognitif, kemungkinannya pun bisa dipersempit. Seenggaknya ada tiga teori yang udah lazim, menggunakan kejadian restoran tadi.

Yang pertama yaitu pemrosesan ganda. Kita perlu adegan misalkan seorang pelayan menjatuhkan piring. Saat adegan dimulai, otak kamu memproses informasi yang membingungkan: ayunan tangan pelayan, teriakan minta tolong, aroma bau pasta. Dalam hitungan milidetik, semua informasi ini melalui jalur-jalurnya dan diproses dalam satu waktu.

Umumnya, semua informasi direkam bersamaan. Namun, teori ini menyatakan bahwa deja vu muncul ketika ada sedikit penundaan pengiriman informasi pada satu jalur.



Foto:Artur Debat/Getty Images

Perbedaan waktu informasi tiba membuat otak menginterpretasi informasi yang terlambat sebagai kejadian terpisah. Saat diputar bersama kejadian yang telah terekam, rasanya seperti sudah pernah terjadi karena kurang lebih memang pernah terjadi.

Teori berikutnya melibatkan kekeliruan ingatan masa lalu, bukan kesalahan proses saat ini. Inilah yang dinamakan teori hologram.

Sebagai contoh, saat kamu lihat motif kotak-kotak pada taplak, sebuah ingatan akan muncul dari dalam otakmu. Menurut teori, itu terjadi karena memori tersimpan dalam wujud hologram, cukup satu keping hologram untuk mengingat sebuah gambaran utuh.

Otakmumengenali taplak itu sebelumnya, mungkin saja dari rumah nenekmu. Tetapi, alih-alih mengingat bahwa kamu pernah melihatnya di rumah nenekmu, otakmu memanggil ingatan masa lalu, tapi gak bersama konteksnya.

Akibatnya, kamu merasa familier, tapi gak ingat secara pasti. Meskipun kamu belum pernah ke restoran ini, kamu pernah melihat taplak itu, tapi gagal mengingatnya dengan jelas.

Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. SINDOnews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More