alexametrics
musik
Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
Jadi fanboy K-pop sering dituduh sebagai cowok feminin yang suka liat seleb dengan muka plastik. Foto/aminoapps
Jakarta - Cewek jadi penggemar K-pop udah jelas gak aneh, tapi kalo ada cowok jadi fanboy K-pop? Ternyata masih ada aja yang suka nyinyir menghina alias mem-bully mereka.

K-pop udah menjadi gebrakan besar di jagat musik dunia, dengan memperlihatkan eksistensinya dan berbagai peraihan luar biasa.

Misalnya yang didapat oleh grup seperti BTS, BLACKPINK, EXO, hingga Twice. Musik K-pop pun kini udah gak lagi dipandang sebelah mata oleh para penggemar musik.



Walaupun begitu, ternyata berbagai pandangan negatif masih terus menempel pada penggemar musik K-pop, terutama penggemar cowok atau biasa disebut fanboy.

Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
BTS. Foto: Facebook BTS

Banyak stigma yang menempel pada para fanboy gara-gara kesukaan mereka pada musik K-pop yang identik dengan histeria cewek-cewek.

Mulai dari penggemar yang dibilang kekanakan, sampai cuma menghabiskan waktunya untuk mendukung idolanya.

Fanboy dan Feminin

Penggemar K-pop emang didominasi penggemar cewek. Berbagai boy group dengan personel yang tampil apik dan rupawan bikin kaum hawa menjadi penggemarnya.

Namun, bakal jadi berbeda saat penggemarnya adalah para cowok-cowok. Para fanboy akan mendapat stigma negatif saat mereka menyukai grup cowok, bahkan saat menyukai grup cewek sekali pun.

Musik Korea yang didominasi musik pop, lalu tampilan flower boy dari banyak grup cowok, membuat stigma bahwa fanboy itu feminin.

Hal ini jadi sering banget jadi bahan lelucon dan bahkan gak jarang fanboy akan dirisak alias di-bully gara-gara hobinya itu.

Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
SNSD. Foto: Allkpop

“Aku udah kebal mungkin, ya, denger hal tersebut. Kebetulan grup yang aku suka itu SNSD dan aku suka dengan mereka karena musik mereka yang bagus. Jadi aku biarin aja kalau ada yang bilang seperti itu,” kata Muhammad Hafiz, salah satu Sone Indonesia (sebutan untuk penggemar SNSD).

Hafiz juga bilang bahwa julukan seperti itu (fanboy feminin) biasanya cuma sekadar ucapan asal lewat aja, gak berlebihan.

"Tapi memang perlu diluruskan bahwa musik K-pop sama aja dengan musik populer lainnya," tegasnya.

K-pop adalah Musik Palsu

Penampilan yang spektakuler dengan tarian dan aksi panggung yang megah bikin banyak orang beranggapan bahwa grup K-pop melakukan lipsync. Bahkan lebih parahnya ada yang bilang bahwa mereka cuma grup tari yang pura-pura menyanyi.

Belum lagi tuduhan bahwa semua musisi K-pop pasti melakukan operasi plastik dan cuma mengandalkan tampilan fisik aja.

“Aku dari awal suka dengan grup EXO, terus sering banget banyak yang bilang, 'Kok suka, sih, sama Korea, mukanya kaya plastik gitu, emang-nya bisa nyanyi?” jawab Thoriq, yang juga perwakilan dari Sahabat Korea 2020, komunitas asuhan Kedutaan Besar Republik Korea Selatan di Indonesia.

Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
EXO. Foto: YouTube EXO

Saking 'pegel'-nya sering dikomentari negatif, para fanboy ternyata ada yang sampai merahasiakan hobinya tersebut.

“Dulu sebelum K-pop mendunia seperti sekarang ini, suka K-pop itu rasanya seperti main kucing-kucingan. Setelah denger komentar negatif dari teman, rasanya pengen tutupin, apalagi dari keluarga. Jadi, sebisa mungkin dulu, tuh, gak memperlihatkan kesukaan aku sama K-pop,” curhat Thoriq.

Bukan Penggemar Biasa

Dengan stigma tersebut, gak heran, sosok fanboy menjadi terasa langka. Walau begitu, jumlahnya yang gak sebanyak fangirl bikin keberadaannya terasa istimewa. 

“Aku punya banyak teman-teman fangirl dan mereka banyak yang suka dengan keberadaan fanboy, karena fanboy K-pop, tuh,  gak banyak. Selain itu tiap ada kesempatan ketemu sesama fanboy jadi seneng banget, karena kita ngerasa punya frekuensi yang sama apalagi kalau suka grup yang sama,” jelas Thoriq.

Thoriq juga membagikan ceritanya tentang hobinya dengan musik Kpop. Sejak 2019 lalu, dia tergabung dengan komunitas Sahabat Korea, yang giat membagikan cerita tentang budaya Korea Selatan.

Nasib Jadi Fanboy K-Pop, Sering Diejek sampai Harus Kucing-Kucingan
Thoriq menerima penghargaan utama Sahabat Korea 2019. Foto: Instagram @thoriqhafidz.kjh

Mahasiswa sastra Korea ini juga jadi youtuber dengan lebih dari 10.000 pengikut. Lewat kanal YouTube-nya, Thoriq Cetar, dia membagikan banyak konten berbau Korea mulai dari reaksi video musik, kebudayaan Korea, pemerintahan Korea, acara-acara Korea, sampai belajar bahasa Korea secara daring.

Meski K-pop udah 'dilihat', tapi stigma pasti akan tetap ada. Namun melihat grup-grup K-pop yang tahan banting dengan haters dan ujaran kebencian, akhirnya bikin penggemarnya juga ikut terlatih lebih kuat.

Ramdhani Kusuma Putra
Kontributor GenSINDO
Universitas Negeri Jakarta
Instagram: @ramable_



(it)
Artikel Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss