3 Kasus dalam Juvenile Justice yang Diangkat dari Kisah Nyata

3 Kasus dalam Juvenile Justice yang Diangkat dari Kisah Nyata
Juvenile Justice menceritakan betapa berat dan penuh dilema menjadi hakim di pengadilan anak. Foto/Netflix
JAKARTA - Serial Netflix Juvenile Justice kini tengah menjadi salah satu drama Korea favorit penonton dunia, termasuk di Indonesia.

Di Netflix Indonesia, Juvenile Justice menjadi tontonan terpopuler kedua. Sementara dari Flix Patrol, serial ini duduk di posisi ke-7 dari 10 besar serial Netflix terpopuler di dunia pada 2 Maret 2022. Selain Juvenile Justice, drama Korea lainnya yang masuk daftar hanya All of Us Are Dead di posisi ke-6.

Juvenile Justice bercerita tentang seorang hakim dan rekannya yang menjadi hakim anak. Tugas mereka adalah menangani kasus-kasus kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Dalam serial ini, digambarkan bahwa pelaku kriminal yang berusia di bawah 14 tahun hanya akan memperoleh hukuman maksimal penjara selama dua tahun. Selebihnya, atau malah mayoritas, mereka hanya diperintahkan masuk ke dalam program bimbingan, bukan dipenjara.

Dilema kerap menyertai para hakim anak yang harus memberikan keputusan seadil-adilnya pada para kriminal remaja ini. Dari 10 episode yang ditayangkan, ada 5 kasus yang diceritakan dalam drama ini. Selain itu, ada juga kasus sampingan yang dikisahkan sekilas.

Dari kasus-kasus tersebut, ternyata ada tiga kasus yang diangkat dari kisah nyata, meski detailnya fiksi. Berikut daftarnya.

Peringatan: tulisan ini mengandung spoiler

1. Kasus Pembunuhan Anak Usia Delapan Tahun


3 Kasus dalam Juvenile Justice yang Diangkat dari Kisah Nyata

Foto: Netflix

Dalam episode 1 dan 2, diceritakan kasus penculikan, pembunuhan, dan mutilasi bocah laki-laki berusia delapan tahun.

Pelakunya adalah dua orang remaja, yaitu remaja pria Baek Seung-wu berusia 13 tahun dan remaja putri Han Ye-eun berusia 16 tahun. Dalam pembelaannya, Seung-wu mengatakan bahwa ia mengalami gangguan mental.

Meski dilakukan dua orang, Ye-eun disebut sebagai dalangnya. Sementara Seung-wu hanya membantu. Pada akhir cerita, ia dijatuhi hukuman maksimal untuk remaja, yaitu 20 tahun. Sementara Seung-wu harus menjalani masa percobaan dan bimbingan.

Kasus ini sesungguhnya benar terjadi di Incheon, Korea Selatan, pada Maret 2017. Hampir semua detail dalam dramanya memang benar terjadi, kecuali usia para pelaku. Dalam peristiwa nyatanya, Seung-wu hanya disebut sebagai Park, sementara Ye-eun disebut sebagai Kim.

Baca Juga: 3 Teori tentang Identitas Ayah Kim Min-Chae dalam Twenty-Five Twenty-One

Selain itu, usia Park juga jauh lebih tua daripada Seung-yu, yaitu 18 tahun. Sementara Kim 17 tahun.

Mengutip Yonhap, dalam kejadian aslinya, hukuman Kim sama dengan cerita dramanya, yaitu 20 tahun. Ia juga harus memakai pelacak selama 30 tahun. Sementara Park dijatuhi hukuman seumur hidup.

Namun mengutip Korea Times, setelah melakukan banding, hukuman Park berkurang menjadi 13 tahun. Sementara Kim tetap dijatuhi hukuman 20 tahun.

2. Kasus Bocornya Jawaban Ujian Masuk Perguruan Tinggi

3 Kasus dalam Juvenile Justice yang Diangkat dari Kisah Nyata

Foto: Netflix

Dalam episode 6 dan 7, diceritakan terjadi kebocoran soal dan kunci jawaban ujian di sebuah sekolah swasta terpandang. Pelakunya adalah guru di sekolah tersebut, dan yang membongkar aib ini juga adalah guru yang berbeda di sekolah yang sama.

Faktanya, kebocoran ujian Scholastic Aptitude Test atau SAT (ujian masuk perguruan tinggi) di Korea sangat sering terjadi, bahkan sampai bertahun-tahun. Mengutip Hapskorea, kejahatan ini sudah berlangsung sejak 2008.

Sama seperti dalam drama, salah satu pelakunya adalah guru bimbingan belajar. Mengutip Korea Herald, pada Januari 2021 ada vonis penjara selama tiga tahun untuk seorang guru berkebangsaan Amerika di SMA Yongin.

Guru berusia 38 tahun itu disebutkan sudah mengajar di sekolah tersebut sejak 2009, dan menjadi koordinator SAT pada 2013. Pelaku yang memiliki marga Lee itu disebutkan mulai menjadi calo kunci jawaban pada 2017.

3. Kasus Kejatuhan Batu Bata

3 Kasus dalam Juvenile Justice yang Diangkat dari Kisah Nyata

Foto: Netflix

Jelang episode akhir, penonton akhirnya mengetahui penyebab Hakim Shim Eun-seok menjadi pembenci kriminal remaja. Ini karena pada beberapa tahun lalu, anaknya yang masih kecil tewas tertimpa batu bata besar yang dijatuhkan oleh dua bocah laki-laki dari atap.

Nyatanya, kasus ini benar terjadi 2010. Menurut laporan Korea Times, pada April 2010, seorang anak berusia 13 tahun menjatuhkan batu bata dari lantai 13 apartemennya di Busanjin.

Baca Juga: 5 Film tentang Perang Rusia Ukraina, dari Kisah Muslim hingga Dokter Muda

Akibatnya, bocah dengan usia yang juga 13 tahun mengalami luka parah di kepalanya akibat tertimpa batu bata tersebut. Bocah ini disebutkan juga mengalami kondisi kritis.

Menurut laporan polisi, pelaku yang merupakan anak tunggal itu melakukan hal tersebut karena ingin menarik perhatian orang tuanya. Namun ia tidak menyangka bahwa tindakannya itu mencederai orang lain.

Meski telah mencelakakan orang, bocah itu tidak bisa dihukum karena usianya yang masih 13 tahun. Ia hanya dikirim ke pengadilan anak dan mendapatkan bimbingan.


(ita)
Share: