Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia

Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia
Genre musik shoegaze memberikan efek tenang dan santai, membuat pendengarnya seolah mengawang. Foto/LNWY
JAKARTA - Salah satu genre musik yang sekarang sedang banyak diadopsi oleh para musisi indie Indonesia adalah shoegaze. Sebut saja misalnya Kaveh Kanes, RL KLAV, Kurosuke, Bedchamber, Seahoarse, dan Seaside.

Melansir dari NY Times , genre ini dinamai shoegaze karena kecenderungan anggota band yang menatap ke efek pedal gitar di bawah kaki. Efek pedal ini bernama stompbox yang akan memberikan efek distorsi pada suara yang dihasilkan.

Shoegaze merupakan subgenre dari alternative rock yang sering kali disebut sebagai dream pop atau ambient.

Vokal yang lembut dan kabur dengan lirik yang berulang menjadi ciri khas genre musik ini. Selain pedal, alat musik lain seperti gitar dan synthesizer juga menjadi elemen penting dalam shoegaze.



Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia

Foto:Discogs Blog

Gitar yang digunakan pada genre ini adalah gitar listrik. Hasil dari gitar itu cenderung memiliki efek noise berlapis (layer) dengan tambahan fuzz untuk menghasilkan musik yang kurang halus.

Berbeda dengan genre musik lainnya, shoegaze lebih banyak memasukkan instrumen lagu daripada vokal. Hal ini yang membuat atmosfernya terasa begitu dreamy dan saat mendengarnya akan membuat kita terasa mengawang-ngawang.



Baca Juga: Peringkat Lagu-Lagu Taylor Swift dalam ‘Evermore’ yang Pas Didengar saat Hujan


SEBUTANNYA TERCETUS KARENA “KECELAKAAN”

Ternyata, sebutan shoegazeberawal dari sebuah “kecelakaan”. Pada saat itu Andy Ross, pendiri Food Records yang menaungi band seperti Lush dan Moose, mendeskripsikan ekspresi para personel bandnya.

Setiap kali tampil manggung, mereka selalu menunduk ke bawah karena terfokus pada efek pedal gitar mereka. Melihat itu, ia pun menciptakanistilah shoegaze yang berasal dari kata shoe (sepatu) dan gaze (memandang). Secara terminologi, shoegaze memiliki arti menunduk ke sepatu.

HADIR KARENA POLITIK KONSERVATIF INGGRIS

Saat para remaja di Amerika mengekspresikan kemarahan pada pemerintahnya lewat genre grunge, Inggris hadir dengan genre shoegaze.

Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia

Foto:Brooklyn Vegan

Genre musik ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Pada saat itu, Inggris dipimpin oleh Margaret Thatcher sebagai perdana menteri yang antikritik. Bak Soeharto-nya Indonesia, Margaret menduduki jabatan terlama perdana menteri, yaitu sembilan tahun.

Ia mengeluarkan kebijakan-kebijakan konservatif yang disebut Thatcherisme. Pada masa jabatan keduanya, ia menjual banyak BUMN dan mengubah Britania Raya sebagai negara bisnis.

Ia juga menciptakan kebijakan Poll Tax yang mewajibkan semua orang membayar pajak dengan nominal yang sama tanpa melihat kemampuan finansialnya. Pajak ini digunakan untuk membiayai kepentingan lokal seperti perawatan lingkungan, taman, dan infrastruktur di pemerintahan lokal.

Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia

Foto:Terry O'Neill/Getty Images

Margaret banyak menutup pabrik-pabrik yang tidak menghasilkan keuntungan dan menggantinya dengan yang baru. Hal ini memicu para buruh untuk memberontak. Kerusuhan di seluruh kota pun tak terhindarkan.

Ia juga menciptakan kebijakan Poll Tax yang mewajibkan semua orang membayar pajak dengan nominal yang sama tanpa melihat kemampuan finansialnya. Pajak ini digunakan untuk membiayai kepentingan lokal seperti perawatan lingkungan, taman, dan infrastruktur di pemerintahan lokal.

Situasi pemerintahan yang kacau membuat anak-anak muda Britania Raya menyalurkan emosinya lewat musik. Hal ini terlihat dari kedepresian dan kekelaman nada-nada yang ada pada genre shoegaze.

BAND-BAND YANG TERKENAL PADA ERA KEMUNCULANNYA

Pada era kemunculannya, band yang menjadi pelopor saat itu di antaranya adalah My Bloody Valentine. Album My Bloody Valentine bertajuk “Loveless” yang dirilis pada 1991 pun memikat banyak orang.

Selain itu, terdapat Cocteau Twins dengan lagu shoegaze paling suksesnya, “Heaven or Las Vegas” yang dirilis pada 1990. Melansir 4AD , album dengan judul yang sama pun meraih kesuksesan besar karena meraih posisi ketujuh di UK Albums Chart dan posisi ke-99 di US Billboard 200.

Asal-usul Shoegaze, Genre Musik yang lagi Tren di Kalangan Musisi Indie Indonesia

Foto:Pitchfork

Slowdive yang merilis “Alison” juga turut melengkapi era awal kemunculan shoegaze. Bahkan, sampai sekarang musik-musiknya masih didengar. Pendengar bulanan mereka mencapai satu juta di Spotify.

Karena hubungan kuat antarband shoegaze, mereka menyebut gerakannya sebagai "The Scene That Celebrates Itself". Alih-alih bersaing, mereka sering terlihat di pertunjukan satu sama lain, bergantian personelnya, dan berkumpul bersama.

Label rekaman seperti Creation Records dan 4AD records juga turut mendukung eksistensinya yang mengawali siklus awal perkembangan shoegaze.

Baca Juga: 6 Lagu Jadul Indonesia yang Wajib Didengar Gen Z Menurut Pengamat Musik

5 REKOMENDASI LAGU SHOEGAZE KEKINIAN

Genre shoegaze pada masa sekarang banyak dinikmati oleh anak muda, bahkan mulai bermunculan band-band di berbagai negara pada tahun 2010. Berikut lima lagu shoegaze kekinian yang bisa didengarkan untuk menemani hari-hari kalian.

1. FAZERDAZE - LUCKY GIRL



2. ALVVAYS - DREAM TONITE



3. MEN I TRUST - TAILWHIP



4. CLAIRO - WHITE FLAG



5. BEACH FOSSILS - WHAT A PLEASURE



Alifia Putri Yudanti
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Twitter: @shcsei


(ita)
Share: