Dulu Anggap Sebelah Mata, Sekarang Jadi Pencandu Budaya Korea

Dulu Anggap Sebelah Mata, Sekarang Jadi Pencandu Budaya Korea
Drama Reply 1988 termasuk salah satu drama Korea yang paling disukai di Indonesia, bahkan tetap dibicarakan meski ceritanya sudah tamat empat tahun lalu. Foto/tvN
JAKARTA - Kesuksesan K-pop dan K-drama hampir di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia membuat efek hallyu menerpa semua kalangan, khususnya anak muda.

Menurut data dari Kedutaan Besar Korea untuk Republik Indonesia, hallyu yang berarti gelombang Korea muncul pertama kali pada pertengahan 1990-an setelah Korea Selatan mengadakan hubungan diplomatik dengan China pada 1992.

Sejak saat itu, drama TV Korea mulai mendapatkan popularitas di antara komunitas berbahasa China. Setelah meroket di China, hallyu mulai sampai ke Jepang pada 2003 berkat serial drama “Winter Sonata”.

Melalui drama dan musiknya, hallyu mulai merambah ke berbagai golongan dan usia di Asia, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah. Budaya Korea lainnya, seperti makanan, literatur, bahasa, gim, dan film juga ikut meroket popularitasnya.



Dulu Anggap Sebelah Mata, Sekarang Jadi Pencandu Budaya Korea

Foto: tvN

Menurut data Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, negara ini sudah mengekspor konten hallyu lebih dari USD9,615 miliar pada 2018 melalui K-pop, drama, dan animasi.

Angka ini mengalami kenaikan 9,1% dalam setahun. Industri gim ternyata jadi yang paling tinggi diekspor, dengan nilai USD6,4 miliar, karakter USD745,14 juta, pengetahuan dan informasi USD633,88 juta, dan musik USD564,24 juta.



Selama lima tahun (2014-2018) terakhir, ekspor konten hallyu tumbuh sampai 16,2% per tahun.

Di Korea Selatan pada 2019, sekitar 23,3% turis mengungkapkan ingin berkunjung untuk merasakan secara langsung pengalaman K-pop dan hallyu.

Dulu Anggap Sebelah Mata, Sekarang Jadi Pencandu Budaya Korea

Foto: Big Hit Entertainment

Melihat perkembangan industri hallyu yang semakin tinggi, banyak cerita menarik dari beberapa orang yang dulunya tak suka budaya Korea, sekarang malah jadi menyukainya.

Bagai Terapi saat Sedih

Anida, salah satu mahasiswa UIN Jakarta mengungkapkan, dulu, dia tak suka K-pop karena merasa ribet harus menghafal banyak nama. Namun, saat mulai mendengarkan lagu-lagu BTS, dia baru tahu bahwa musik K-pop juga keren, dan bahkan bisa jadi semacam obat untuk dirinya.

“Waktu itu era "Boy with Luv", terus aku dengerin lagu-lagu dari album (kompilasi) “Love Yourself” dan kayak disadarin aja gitu,” ujarnya.

“Lagu-lagu BTS itu kayak healing buat aku. Jadinya sekarang aku kayak lebih membahagiakan diri sendiri aja. K-pop salah satu sumber bahagia aku sekarang.” (Baca Juga: BTS dan BLACKPINK Daftar untuk Song of The Year Grammy, Pengumuman 24 November 2020 )

Dari Barat ke Korea

Cerita lain datang dari Dinda Nindyastuti, mahasiswa Universitas Budi Luhur. Dulunya Dinda lebih suka musik dan film Barat, tapi karena berada di lingkungan K-popers akhirnya dia jadi terserang demam hallyu.

Dulu Anggap Sebelah Mata, Sekarang Jadi Pencandu Budaya Korea

Foto: SM Entertainment

“Teman-teman banyak yang K-popers, lama-kelamaan karena deket jadi kena juga. Penasaran, deh. coba-coba nonton terus jadi suka sampe sekarang,” katanya yang suka K-pop sekaligus drama Korea.

Hal ini juga serupa dengan yang dialami Aisah Amini mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta, efek hallyu mulai menerpa dirinya, karena punya banyak teman yang pencandu budaya Korea.

“Teman dan kakak suka drakor, jadinya terpengaruh. Makin suka karena ada temen yang bisa diajak omong tentang drakor,” ujarnya. (Baca Juga: Ini 5 Lokasi Syuting Drama Start-Up dalam Dunia Nyata )

GenSINDO
Vica Nurul Aini
Politeknik Negeri Jakarta


(it)
Share: