CERMIN: Beberapa Sutradara Ingin Seperti Quentin Tarantino, tapi Saya Ingin Menjadi Seperti John Carney
Sabtu, 07 Oktober 2023 - 07:22 WIB
JAKARTA - Tahun 2007. John Carney merilis filmnya yang berjudul Once dan langsung memasukkan namanya ke dalam daftar pendek sutradara yang ingin saya tonton karya-karyanya setelahnya.
Kalau sudah menonton Once bisa melihat dengan mata telanjang betapa murahnya film tersebut dibuat. Dimainkan oleh dua aktor tak terkenal, dengan peralatan yang kentara betul seadanya, juga dengan set lokasi yang juga tampil apa adanya. Tapi ada satu hal yang dimiliki Once dan tak dimiliki film-film berbiaya murah lainnya: ia dituturkan dengan menggunakan banyak lagu yang mudah menarik perhatian.
Betul saja, Once lantas menarik perhatian dunia. Dari film tersebut, John mendapatkan piala Oscar untuk kategori Lagu Asli Terbaik. Tak hanya itu Once juga melahirkan gelombang baru penggemar John, salah satu di antaranya adalah penyanyi legendaris, Bob Dylan. Saking nge-fan-nya dengan film ini, Bob sampai mendaulat dua aktor utama Once, Glen Hansard dan Marketa Irglova, untuk tampil dalam tur dunia yang digelarnya.
Sayangnya memang John bukan pembuat film yang aktif. Tak seperti kebanyakan sutradara Indonesia yang bahkan bisa membuat hingga 10 film setahun, John perlu waktu hingga enam tahun untuk melahirkan karya berikutnya yang membuat namanya semakin dikenal. Setelah Begin Againpada 2013, Sing Streetpada 2016, barulah John kembali datang dengan karya terbarunya, Flora and Son.
Foto: Apple TV+
Seperti Bob Dylan, saya juga menjadi penggemar berat John Carney. Saya selalu mengagumi cerita-ceritanya yang sederhana, dengan karakter-karakter yang terasa jujur dan manusiawi, dan terutama bagaimana John mengintegrasikan lagu dengan brilian ke dalam film-filmnya.
Dalam Flora and Son, John mendorongnya lebih jauh lagi. Lagu menjadi faktor utama yang membuat karakter-karakternya menemukan diri mereka kembali, berjuang meraih mimpi-mimpi mereka dan menikmati kebahagian-kebahagiaan kecil yang kita pun selalu bisa gapai.
Dalam Flora and Son, kita akan bertemu dengan Flora. Masih muda, cantik, menggemari kehidupan malam penuh huru-hara. Namun kita tahu kelak bahwa Flora tak seperti perempuan muda kebanyakan. Ia sudah punya seorang putra yang kini beranjak remaja bernama Max. Flora yang terlihat masih tertatih-tatih menjalankan perannya sebagai seorang ibu mesti merasakan tembok tinggi yang sering dipasang oleh Max.
Di lain pihak, kita akan bertemu dengan Max. Seorang remaja dengan perawakan biasa saja, terbiasa dengan kerasnya hidup yang dijalaninya sebagai anak yang dibesarkan ayah dan ibu yang sudah berpisah. Ia juga melarikan dirinya ke sebuah tempat yang membuatnya menjadi dirinya sendiri bernama musik.
Foto: Apple TV+
Lantas ada Jeff yang tinggal ribuan kilometer dari Dublin, kota tempat Flora dan Max bermukim. Jeff mengajar kursus privat gitar secara online dari rumahnya di Los Angeles. Seorang laki-laki yang tampak bijak tapi sesungguhnya telah mengalami luka demi luka sepanjang hidupnya dan kini mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
Dalam Flora and Son, John Carney menyatukan ketiganya oleh musik. Flora dengan kecintaannya pada musik elektronik ternyata bisa sepemahaman dengan Max yang jago meracik musik dari laptopnya. Jeff yang menjadi tempat bagi Flora mempelajari gitar ternyata bisa terkoneksi dengan Flora yang punya sense of music yang baik.
Dalam sebuah wawancara dengan Letterboxd, John mengemukakan satu hal yang menjadi basis dari Flora and Son. “Yang terpenting adalah penonton merasa bahwa lagu-lagu tersebut berasal dari karakter dengan segala kekacauan, keterbatasan, bakat dan suaranya. Kami tidak mencari lagu hit. Kami mencari lagu-lagu indah yang bisa diciptakan oleh ketiga karakter ini.”
Kekacauan. Keterbatasan. Sebagai sutradara, saya membenci karakter sempurna. Saya menyukai karakter yang penuh kekacauan dan keterbatasan. Dan ingin penonton melihat mereka, sebagaimana saya, mencoba membereskan kekacauan demi kekacauan yang sudah mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Saya juga ingin penonton melihat mereka mendobrak keterbatasan mereka dalam perjuangan untuk meraih yang mereka inginkan.
Foto: Apple TV+
Kalau sudah menonton Once bisa melihat dengan mata telanjang betapa murahnya film tersebut dibuat. Dimainkan oleh dua aktor tak terkenal, dengan peralatan yang kentara betul seadanya, juga dengan set lokasi yang juga tampil apa adanya. Tapi ada satu hal yang dimiliki Once dan tak dimiliki film-film berbiaya murah lainnya: ia dituturkan dengan menggunakan banyak lagu yang mudah menarik perhatian.
Betul saja, Once lantas menarik perhatian dunia. Dari film tersebut, John mendapatkan piala Oscar untuk kategori Lagu Asli Terbaik. Tak hanya itu Once juga melahirkan gelombang baru penggemar John, salah satu di antaranya adalah penyanyi legendaris, Bob Dylan. Saking nge-fan-nya dengan film ini, Bob sampai mendaulat dua aktor utama Once, Glen Hansard dan Marketa Irglova, untuk tampil dalam tur dunia yang digelarnya.
Sayangnya memang John bukan pembuat film yang aktif. Tak seperti kebanyakan sutradara Indonesia yang bahkan bisa membuat hingga 10 film setahun, John perlu waktu hingga enam tahun untuk melahirkan karya berikutnya yang membuat namanya semakin dikenal. Setelah Begin Againpada 2013, Sing Streetpada 2016, barulah John kembali datang dengan karya terbarunya, Flora and Son.
Foto: Apple TV+
Seperti Bob Dylan, saya juga menjadi penggemar berat John Carney. Saya selalu mengagumi cerita-ceritanya yang sederhana, dengan karakter-karakter yang terasa jujur dan manusiawi, dan terutama bagaimana John mengintegrasikan lagu dengan brilian ke dalam film-filmnya.
Dalam Flora and Son, John mendorongnya lebih jauh lagi. Lagu menjadi faktor utama yang membuat karakter-karakternya menemukan diri mereka kembali, berjuang meraih mimpi-mimpi mereka dan menikmati kebahagian-kebahagiaan kecil yang kita pun selalu bisa gapai.
Dalam Flora and Son, kita akan bertemu dengan Flora. Masih muda, cantik, menggemari kehidupan malam penuh huru-hara. Namun kita tahu kelak bahwa Flora tak seperti perempuan muda kebanyakan. Ia sudah punya seorang putra yang kini beranjak remaja bernama Max. Flora yang terlihat masih tertatih-tatih menjalankan perannya sebagai seorang ibu mesti merasakan tembok tinggi yang sering dipasang oleh Max.
Di lain pihak, kita akan bertemu dengan Max. Seorang remaja dengan perawakan biasa saja, terbiasa dengan kerasnya hidup yang dijalaninya sebagai anak yang dibesarkan ayah dan ibu yang sudah berpisah. Ia juga melarikan dirinya ke sebuah tempat yang membuatnya menjadi dirinya sendiri bernama musik.
Foto: Apple TV+
Lantas ada Jeff yang tinggal ribuan kilometer dari Dublin, kota tempat Flora dan Max bermukim. Jeff mengajar kursus privat gitar secara online dari rumahnya di Los Angeles. Seorang laki-laki yang tampak bijak tapi sesungguhnya telah mengalami luka demi luka sepanjang hidupnya dan kini mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
Dalam Flora and Son, John Carney menyatukan ketiganya oleh musik. Flora dengan kecintaannya pada musik elektronik ternyata bisa sepemahaman dengan Max yang jago meracik musik dari laptopnya. Jeff yang menjadi tempat bagi Flora mempelajari gitar ternyata bisa terkoneksi dengan Flora yang punya sense of music yang baik.
Dalam sebuah wawancara dengan Letterboxd, John mengemukakan satu hal yang menjadi basis dari Flora and Son. “Yang terpenting adalah penonton merasa bahwa lagu-lagu tersebut berasal dari karakter dengan segala kekacauan, keterbatasan, bakat dan suaranya. Kami tidak mencari lagu hit. Kami mencari lagu-lagu indah yang bisa diciptakan oleh ketiga karakter ini.”
Kekacauan. Keterbatasan. Sebagai sutradara, saya membenci karakter sempurna. Saya menyukai karakter yang penuh kekacauan dan keterbatasan. Dan ingin penonton melihat mereka, sebagaimana saya, mencoba membereskan kekacauan demi kekacauan yang sudah mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Saya juga ingin penonton melihat mereka mendobrak keterbatasan mereka dalam perjuangan untuk meraih yang mereka inginkan.
Foto: Apple TV+
tulis komentar anda