Film Pendek 'Rino Wengi', Siapkah Kita dengan Kehilangan?

Film Pendek Rino Wengi, Siapkah Kita dengan Kehilangan?
Film pendek Rino Wengi menceritakan kisah istri yang tak berhenti berduka setelah ditinggal mati suaminya. Foto/Genflix
JAKARTA - Ketika sedang menulis dengan pensil, tiba-tiba ada salah tulis, tangan kita otomatis mencari penghapus di tempat kita biasa menaruh penghapus.

Ketika tidak menemukannya, otomatis ada perasaan kaget, karena sebelumnya melihat penghapus tersebut. Lantas bertanya-tanya, di mana tadi meletakkannya? Mungkin ada juga yang sampai kesal karena merasa sudah meletakkan di tempat biasa.

Itu baru kehilangan penghapus, benda kecil yang mudah sekali digantikan fungsinya. Terbayangkah kalau yang hilang adalah seseorang yang setiap hari ada di samping kita, tempat kita berbagi cerita dan kata? Membayangkan kehidupan yang sudah berjalan rutin kembali ke posisi nol.

Pada usia 27 tahun, Sutinah mengalaminya. Ditinggal sang suami yang meninggal, ia melalui hari-harinya sama seperti ketika sang suami masih hidup. Mulai dari bangun pagi, memasak, pergi ke sawah, duduk di balai-balai yang biasa menjadi tempat istirahat sang suami, sampai membereskan rumah, ia selalu teringat akan perkataan dan perilaku sang suami.



Setiap hari tanpa pernah absen, ia akan mengakhiri harinya dengan mengunjungi makam sang suami, menceritakan semua rutinitasnya hari itu. Semua kegiatan tersebut dilakukannya tanpa putus selama dua tahun berturut-turut. Walaupun ada pria lain yang mencoba mendekatinya, Sutinah tetap bergeming.

Ada satu teori tahapan berduka yang umum dijadikan referensi. Tahapan tersebut mencakup aspek penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, sampai kemudian menerima keadaan berduka yang dialami. Tidak semua orang akan mengalami kelima tahapan ini, dan apabila mengalaminya pun bisa jadi tidak berurutan sesuai dengan tahapan. Pada Sutinah, ada beberapa tahapan yang telah dilaluinya selama dua tahun berada dalam kondisi berduka.

Film Pendek 'Rino Wengi', Siapkah Kita dengan Kehilangan?

Foto: Genflix

Sutinah jelas mengalami fase tawar-menawar yang fokus pada penyesuaian diri dengan lingkungannya setelah suaminya meninggal. Bukan suatu usaha yang mudah, mengingat Sutinah masih melakukan rutinitas yang sama seperti ketika sang suami masih ada. Ia terus membandingkan kondisinya saat ini dengan ketika sang suami masih mendampinginya.

Ia bahkan terlihat kesal ketika melihat tetangganya yang suami istri lewat di depan rumahnya dan melakukan kegiatan yang dulu sering dilakukan Sutinah bersama suaminya. Kekesalannya ditumpahkan dengan melempar sapu yang tengah dipakainya untuk membersihkan halaman. Walau terlihat tegar dan tampak menjalani kehidupan seperti apa adanya, ada aspek dalam diri Sutinah yang masih tidak rela kehilangan sang suami.
halaman ke-1
Share: