Review The Woman King: Kisah Pasukan Petarung Perempuan dari Afrika

Review The Woman King: Kisah Pasukan Petarung Perempuan dari Afrika
Film The Woman King menceritakan pasukan petarung nyata dari Afrika yang seluruhnya beranggotan perempuan. Foto/Sony Pictures Releasing
JAKARTA - Film The Woman King menggambarkan kehidupan Agojie, pasukan militer yang semuanya perempuan, yang memang sungguh hidup di Afrika pada era 1600 hingga 1904.

Agojie mirip dengan para perempuan tangguh dari suku Amazon di Yunani yang tergambar dalam film Wonder Woman 1984. Atau masih ingat pasukan militer perempuan yang jadi andalan Wakanda dalam film Black Panther? Nah, pasukan bernama Dora Milaje itu juga mirip dengan Agojie.

Mayoritas cerita dalam The Woman King adalah fiksi. Namun Agojie, nama-nama kerajaan yang disebut dalam film, memang benar eksis di Afrika Barat pada zaman tersebut. Begitu pun dengan perdagangan budak yang jadi 'komoditi' andalan Afrika ke Eropa.

Film dibuka dengan penjelasan bahwa pada tahun 1823, Kerajaan Dahomey memiliki raja muda bernama Ghezo (John Boyega). Meski kehidupan di wilayahnya damai dan tentram, tapi konflik dengan Kerajaan Oyo dan sekutunya pada akhirnya tidak terhindarkan.

Di sinilah lalu pasukan Agojie jadi benteng terkuat Dahomey. Pasukan ini jadi kelompok paling terhormat di Dahomey setelah Raja Ghezo. Saking terhormatnya, warga biasa bahkan dilarang melihat saat pasukan Agojie pulang dari perang. Warga harus menundukkan wajahnya saat mereka lewat, sebagai tanda penghormatan bagi pelindung kerajaan ini.

Review The Woman King: Kisah Pasukan Petarung Perempuan dari Afrika

Foto: Sony Pictures Releasing

Agojie dipimpin Jenderal Nanisca (Viola Davis). Ia sosok yang sangat tegas dan efisien dalam menjalankan tugas dan memimpin pasukan. Ia punya dua orang kepercayaan. Pertama ada Izogie (Lashana Lynch) yang seorang petarung sejati. Lalu yang berlaku seperti penasihat spiritual ada Amenza (Sheila Atim).

Layaknya pasukan militer, Agojie juga punya aturan baku yang tak bisa dilanggar. Mereka tidak boleh menikah, punya anak, apalagi berpacaran. Intinya, mereka harus mendedikasikan hidup untuk melindungi raja dan patuh pada perintahnya. Nanisca pun berlaku seperti ini.

Namun saat Nawi (Thuso Mbedu) bergabung sebagai calon prajurit Agojie, ia sering membuat Nanisca marah. Gadis 19 tahun itu diserahkan orang tuanya karena ia menolak menikah dengan pria-pria yang jauh lebih tua darinya.

Baca Juga: 4 Drama Korea Remake yang Dianggap Lebih Baik Dibanding Karya Aslinya

Kekeraskepalaannya itu terus dibawanya ke wilayah Agojie, membuatnya sering melanggar aturan yang ditetapkan Nanisca. Namun sang jenderal juga tak bisa menampik bahwa Nawi adalah calon Agojie yang tangguh.

Hubungan Nanisca dan Nawi, juga perang yang terjadi antara Dahomey dan Oyo jadi konflik yang menggerakkan cerita The Woman King. Dalam hal perang, penonton akan menyaksikan pertarungan dengan pedang besar dan senjata api yang menjadi andalan masing-masing pasukan.

Review The Woman King: Kisah Pasukan Petarung Perempuan dari Afrika

Foto: Sony Pictures Releasing

Buat penonton yang terbiasa melihat film-film Hollywood dengan pemain mayoritas berkulit putih, menyaksikan para aktris kulit hitam bertubuh tinggi besar mengayunkan pedang dan bertarung melawan para pria adalah sebuah keasyikan tersendiri.

Apalagi, secara visual, penampilan mereka sangatlah berbeda dari yang biasa kita lihat di layar lebar bioskop. Pasukan Agojie tampil dengan kostum yang sederhana tapi menawan.

Tiap kali bertarung, tubuh para Agojie juga begitu mengilat karena mereka sengaja membalurkan minyak di tubuh bagian atas. Tujuannya? Agar musuh sulit menarik tubuh mereka.

Meski pertarungan mereka cenderung brutal, tapi The Woman King tak menampilkan terlalu banyak darah. Ini membuat rating film ini pun tetap berada di usia 13 tahun ke atas.

Review The Woman King: Kisah Pasukan Petarung Perempuan dari Afrika

Foto: Sony Pictures Releasing

Selain pertarungan seru, drama dan kritik sosial jadi hal yang juga menonjol di sini. Pesan tentang antipenjajahan, antiperdagangan budak, feminisme, dan berani melakukan pemberontakan (dalam skala kecil) ditunjukkan Nanisca dan Nawi.

Nanisca berani mempengaruhi raja untuk mengganti komoditi andalan kerajaan dari perdagangan manusia ke bidang pertanian. Ia juga ternyata tak selalu patuh pada perintah rajanya.
halaman ke-1
Share: