Setelah FOMO, Kini Ada FOGO dan FONO, Apakah Itu?
loading...

Istilah FOGO dan FONO muncul untuk menjawab fenomena kecemasan yang muncul saat pandemi. Foto/Fernando Gonzalez, Pexels
A
A
A
JAKARTA - Setelah istilah Fear of Missing Out (FOMO), kini ada lagi istilah FOGO dan FONO yang bisa juga terkait dengan pandemi COVID-19 .
Ketiganya mengacu pada jenis kecemasan baru yang dialami masyarakat. FOMO mengacu pada cemas akan ketinggalan hal-hal baru di media sosial, sementara FOGO dan FONO adalah rasa takut untuk keluar rumah dan takut menjalani kehidupan normal.
Meski secara klinis istilah dan jenis kecemasan ini masih perlu penelitian lebih lanjut, tapi banyak psikolog menganggap penamaan ini sebagai cara untuk membantu memahami keadaan emosi manusia yang rumit.
FEAR OR GOING OUT (FOGO)
Kalau kamu merasa gugup untuk pergi keluar dan berada di lingkungan yang ramai, bisa jadi kamu memiliki FOGO. Kalau FOGO terasa sangat ekstrem, kemungkinan kamu 'hanya' mengidap Cave Syndrome, yaitu kamu sebenarnya tidak takut untuk keluar rumah, tapi hanya tidak ingin kembali pada rutinitas harian.
“FOGO adalah persepsi bahwa ada sesuatu yang menakutkan di luar sana, bahkan setelah diberitahu bahwa bahaya tidak lagi ada,” kata Sarah Gundle, psikolog yang berbasis di Manhattan, New York City, mengutip dari Mic .
![Setelah FOMO, Kini Ada FOGO dan FONO, Apakah Itu?]()
Foto:Cameron Casey/Pexels
Dengan kata lain, FOGO adalah ketika kamu takut keluar meskipun kondisi aman. Sebagian besar dari kita pernah merasakan beberapa tingkatan ketakutan untuk berada di di tengah keramaian selama pandemi.
Memang sangat mudah untuk cemas saat kita berpikir bahwa kita bisa mati hanya karena menghirup udara yang sama dengan orang yang terinfeksi COVID-19. Para psikolog menjelaskan bahwa perasaan ketakutan saat berada dalam situasi berisiko memang wajar. Namun FOGO punya perasaan yang lebih kuat terhadap kecemasan, dan sedikit lebih mengganggu.
“Ketakutan untuk keluar berhubungan langsung dengan kecemasan pandemi yang dipupuk pada setiap orang,” tutur Sarah. "Kita telah lama hidup dalam keadaan normal sehingga kebanyakan dari kita tidak dapat begitu saja melepaskan kecemasan, meskipun sebenarnya risiko yang dihadapi tidak benar-benar terjadi."
Baca Juga: Suka Iri di Medsos? Ini 4 Cara Mengelolanya Agar Kamu Jadi Lebih Baik
Ketiganya mengacu pada jenis kecemasan baru yang dialami masyarakat. FOMO mengacu pada cemas akan ketinggalan hal-hal baru di media sosial, sementara FOGO dan FONO adalah rasa takut untuk keluar rumah dan takut menjalani kehidupan normal.
Meski secara klinis istilah dan jenis kecemasan ini masih perlu penelitian lebih lanjut, tapi banyak psikolog menganggap penamaan ini sebagai cara untuk membantu memahami keadaan emosi manusia yang rumit.
FEAR OR GOING OUT (FOGO)
Kalau kamu merasa gugup untuk pergi keluar dan berada di lingkungan yang ramai, bisa jadi kamu memiliki FOGO. Kalau FOGO terasa sangat ekstrem, kemungkinan kamu 'hanya' mengidap Cave Syndrome, yaitu kamu sebenarnya tidak takut untuk keluar rumah, tapi hanya tidak ingin kembali pada rutinitas harian.
“FOGO adalah persepsi bahwa ada sesuatu yang menakutkan di luar sana, bahkan setelah diberitahu bahwa bahaya tidak lagi ada,” kata Sarah Gundle, psikolog yang berbasis di Manhattan, New York City, mengutip dari Mic .

Foto:Cameron Casey/Pexels
Dengan kata lain, FOGO adalah ketika kamu takut keluar meskipun kondisi aman. Sebagian besar dari kita pernah merasakan beberapa tingkatan ketakutan untuk berada di di tengah keramaian selama pandemi.
Memang sangat mudah untuk cemas saat kita berpikir bahwa kita bisa mati hanya karena menghirup udara yang sama dengan orang yang terinfeksi COVID-19. Para psikolog menjelaskan bahwa perasaan ketakutan saat berada dalam situasi berisiko memang wajar. Namun FOGO punya perasaan yang lebih kuat terhadap kecemasan, dan sedikit lebih mengganggu.
“Ketakutan untuk keluar berhubungan langsung dengan kecemasan pandemi yang dipupuk pada setiap orang,” tutur Sarah. "Kita telah lama hidup dalam keadaan normal sehingga kebanyakan dari kita tidak dapat begitu saja melepaskan kecemasan, meskipun sebenarnya risiko yang dihadapi tidak benar-benar terjadi."
Baca Juga: Suka Iri di Medsos? Ini 4 Cara Mengelolanya Agar Kamu Jadi Lebih Baik
Lihat Juga :