Sejarah Munculnya Tiga Budaya Utama di Dunia, Termasuk Budaya Pop

Sejarah Munculnya Tiga Budaya Utama di Dunia, Termasuk Budaya Pop
Kebudayaan dibagi menjadi tiga budaya utama, termasuk di antaranya budaya populer yang paling sering dinikmati masyarakat luas. Foto/uk.library
JAKARTA - Pernahkah kita sadar kebudayaan jenis apa yang selama ini kita nikmati dalam kehidupan sehari-sehari? Misalnya hiburan atau kebudayaan yang kita lihat di televisi, media sosial, teater, dan segala iklan yang terpampang di pinggir jalan.

Suatu kebudayaan bisa dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu kebudayaan elite atau adiluhung, kebudayaan rakyat, dan kebudayaan populer.

Kebudayaan elite atau kebudayaan avant-grade tercermin dari segala perilaku keseharian kalangan keluarga raja atau bangsawan. Yaitu cara kaum kerajaan mengisi waktu senggang mereka untuk mencari kesenangan hidup yang sebaik-baiknya.

Kalangan kerajaan sudah lebih dahulu merasakan nikmat dari melek huruf. Melek huruf bukan cuma mengenai kemampuan membaca dan menulis, tapi juga kemampuan memahami dan meresapi seni.



Menonton pertunjukan teater atau membaca roman adalah salah satu kebiasaan kalangan kerajaan dan jadi bagian dari kebudayaan elite. Kebudayaan elite diselimuti stigma berkelas, mahal, dan bermuatan pengetahuan yang tinggi.

Lain lagi dengan kebudayaan rakyat. Kebudayaan ini tumbuh dari bawah, merupakan ekspresi spontan, dan tidak mengambil keuntungan dari kebudayaan luhur. (Baca Juga: Sejarah Hutan Kota di Jakarta, Dibuat untuk Bikin Senang Tamu Asing )

Kebudayaan rakyat jadi bagian dari kebudayaan masyarakat di pedesaan. Masyarakat di pedesaan biasanya punya budaya yang sesuai dengan nilai-nilai luhur generasi sebelumnya.



Sejarah Munculnya Tiga Budaya Utama di Dunia, Termasuk Budaya Pop

Foto: ziliun.com

Munculnya kebudayaan avant-grade dalam masyarakat industri Eropa membuat sebuah gejala kebudayaan baru. Gejala ini oleh orang Jerman disebut kitsch.

Dalam buku "Kebudayaan (populer)(di sekitar) Kita" karya Sapardi Djoko Damono, kitsch mencakup seni dan sastra komersial dan populer seperti gambar depan majalah, fiksi picisan, komik, musik "jreng-jreng", dan semua film buatan Hollywood.

Pada masa revolusi industri di Eropa, terjadi urbanisasi yang cukup besar. Para penduduk desa berbondong-bondong pindah ke kota untuk bekerja. (Baca Juga: Sejarah Hari Perempuan Internasional, Bermula dari Aksi Buruh )

Para petani yang bermukim di kota sebagai proletar tidak punya kebudayaan yang kuat dalam dirinya. Kebudayaan rakyat dari desa belum mengakar dalam diri mereka.

Mereka juga tidak bisa mengikuti kebudayaan elite perkotaan karena ternyata mereka tidak punya cukup waktu luang dan kesadaran akan melek huruf dan melek seni.
halaman ke-1 dari 2
Share: