alexametrics
Joko Anwar: Idealisme itu Overrated
Joko Anwar: Idealisme itu Overrated
Joko Anwar punya pandangan yang berbeda tentang arti idealisme, dan pandangannya itu tergambar jelas dalam film-filmnya. Foto/Shidqi
Jakarta - Sutradara Joko Anwar selalu bikin film yang sesuai visinya. Filmnya pun bukan film 'kaleng-kaleng'. Tapi kenapa dia bilang idealisme itu overrated?

Joko bilang, dia sering ditanya, apakah kalau dalam membuat film lebih memilih untuk mengikuti pasar atau idealisme.

"Saya ingin bilang, bahwa yang namanya idealisme adalah sebuah kata yang overrated," katanya saat jadi pembicara dalam salah satu sesi IdeaFest, pekan lalu di JCC, Jakarta.



Katanya, selama ini orang menganggap idealisme adalah sesuatu yang tidak pernah mendatangkan uang, atau hanya penting untuk diri sendiri.

"Kalau buat saya, idealisme dalam membuat film berarti membuat sebuah film yang bisa menjadi tontonan orang banyak. Apa yang ingin saya sampaikan dapat terakses dengan baik oleh para penonton dan masih memiliki standar teknik dan estetika yang tinggi," ungkap sutradara remake "Pengabdi Setan", "Gundala" dan "Perempuan Tanah Jahanam" ini.

kata sutradara 43 tahun tersebut, sebelum menjadi seorang pembuat film, dirinya adalah penonton film. Kebanyakan pelajaran hidup bahkan dia dapat gara-gara nonton film. Misalnya soal bagaimana seharusnya berinteraksi, dan menghormati orang lain serta diri sendiri.

Joko mengenang, dia dibesarkan di pinggiran kota Medan yang lingkungannya tidak kondusif buat seorang anak tumbuh dan berkembang.

Setelah menonton film, dia lalu punya keinginan untuk keluar dari lingkungan dan kehidupan sehari-harinya itu. Dia ingin mendapatkan kehidupan lebih baik dan menjadi orang yang lebih baik.

"Jadi buat saya film adalah sesuatu yang sangat inspiring, saya ingin membuat film dengan tujuan semoga film-film saya bisa memberikan efek yang sama kepada penonton," tegasnya.

Oleh karena itulah, menurutnya, dalam membuat film tidak seharusnya hanya mengikuti selera pasar. Tapi juga tetap setia pada visi atau hal yang ingin disampaikan dalam filmnya.

"Saya membuat film tidak mengikuti market, tapi mengikuti visi saya. Karena saya percaya ketika membuat film, sebagai seorang kreator, harus setia dan punya integritas kepada profesi yang ditekuninya," imbuhnya.

Shidqi Fikri Zaidan
Kontributor GenSINDO
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Instagram: @qi_qizaidan



(her)
Artikel Terkait
View More
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss