alexametrics
Anak Muda dan Politik, Mesti Gimana?
Anak Muda dan Politik, Mesti Gimana?
Anak muda harus melek politik agar bisa mengkritisi kebijakan yang dibuat pemerintah. Foto/vice.com
Jakarta - Meski banyak mengakses informasi lewat banyak saluran, termasuk media sosial (medsos), anak muda dianggap masih lemah dalam hal literasi politik.
 
Dalam data-data seputar generasi milenial yang dirilis jelang Pemilu 2019, terdapat data yang cukup mengkhawatirkan.

Organisasi partisipasi pemilu bernama Jeune & Raccord (J&R) menemukan fakta bahwa lebih dari 60 persen generasi milenial di Indonesia tidak peduli dengan politik.

Sedangkan potensi golput di kalangan milenial pada pilpres 2019 mencapai angka lebih dari 40 persen. Survei itu melibatkan 1200 responden di seluruh Indonesia yang dilakukan pada 10 sampai 16 Maret 2019.



Padahal, setidaknya 34,4 persen dari total 265 juta penduduk Indonesia merupakan generasi milenial. Hal itu merujuk pada data Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pada Desember 2017. Hal itu juga menunjukkan bahwa setidaknya secara kuantitas, anak muda berperan besar dalam menentukan nasib politik Indonesia.

Literasi Baik, Partisipasi Besar
Untuk membuat generasi milenial berpartisipasi aktif dalam politik, dibutuhkan kemauan, pemahaman, dan literasi politik yang memadai. Hal itu disebabkan adanya kaitan erat antara partisipasi politik dengan kesadaran dan literasi politik yang baik.

Menurut Cassel dan Lo (1997), ketika seseorang atau sebuah kelompok terliterasi secara politis, maka mereka dapat mengetahui perbedaan antar partai-partai politik, serta mempunyai pengetahuan dasar mengenai konsep dan fakta politik.  

Literasi politik diartikan Denver dan Hands (1990) sebagai pengetahuan dan pemahaman proses dan isu-isu politik yang membuat publik mampu menampilkan peran mereka sebagai masyarakat secara efektif.

Menurut Firman Manan, ahli politik dari Universitas Padjadjaran, literasi politik generasi milenial Indonesia sudah baik, meliputi pemahaman dan pengetahuan mengenai dunia politik di negerinya. Namun, pengetahuan dan literasi politik itu belum linear dengan kesadaran mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik, salah satunya pemilu.

Anak Muda dan Politik, Mesti Gimana?
Foto: willistonian.org

Tidak linearnya hal tersebut disebabkan oleh pemahaman sebagian besar generasi milenial Indonesia mengenai politik sebagai hal yang kotor, korup, dan tidak berdaya.

“Perkembangan teknologi yang melahirkan kecepatan informasi melalui internet dan media sosial, tidak lantas membentuk pemahaman hingga mendorong partisipasi politik yang baik di kalangan generasi milenial. Terlebih, banyak hoaks dan misinformasi yang beredar di internet dan media sosial,” ujarnya.

Firman juga berpendapat bahwa kedekatan generasi milenial dengan dua hal itu justru menjadikan mereka sebagai sasaran empuk dalam menerima hoaks. Terlebih, isu politik adalah salah satu isu yang sering menjadi sasaran penyebaran hoaks.

Kata Firman, selain hoaks di media sosial, titik berat pemberitaan politik di media massa di Indonesia yang buruk dan kotor juga membentuk pemahaman generasi milenial bahwa politik adalah hal yang tidak menarik untuk diikuti, didekati, apalagi untuk terlibat di dalamnya.

Firman menambahkan, “Ketika pengetahuan yang terbentuk lebih kepada hal-hal yang bersifat negatif, bisa muncul keengganan generasi milenial untuk terlibat dalam politik di Indonesia.”

Lambat laun, pemahaman dan pengetahuan politik generasi milenial tak lantas membangun kesadaran untuk turut berpartisipasi dalam pemilu.

“Rendahnya partisipasi dan literasi politik bahkan bisa mengakibatkan generasi milenial menjadi apatis dan apolitis,” jelas Firman.

Anak Muda Harus Berani Terima Perbedaan
Berbeda dengan pandangan tersebut, sebagai generasi milenial, Zaki Ali Fahrezi merasa bahwa literasi politik generasi milenial Indonesia masih rendah. Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran itu berpendapat bahwa ketertarikan generasi milenial terhadap politik sudah ada, meski literasinya masih rendah.

Zaki juga berpendapat, sosialisasi yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan literasi dan kesadaran politik generasi milenial belum efektif. Hal terpenting untuk menciptakan pemahaman politik yang baik adalah pemikiran yang terbuka.

 “Hal yang perlu diperhatikan adalah kekritisan generasi milenial serta analytical thinking-nya. Anak-anak muda sekarang masih sebatas memandang politik  dalam satu perspektif. Biasanya perspektif pribadi atau perspektif golongan. Tidak mau menerima perspektif lain dalam pandangan politik,” ujarnya.

Menurut studi sosialisasi tradisional, literasi politik merupakan awal dari bentuk potensi untuk partisipasi politik dari masyarakat yang terinformasi. Krosnick (1990) menyebut konsep ini sebagai political expertise atau keahlian politik dan Zaller (1992) menyebutnya sebagai political awareness atau kesadaran politik.

Anak Muda dan Politik, Mesti Gimana?
Foto: willistonian.org

Sehingga, hal itu menunjukkan sejauh mana seorang individu memperhatikan dan memahami politik akan memengaruhi timbulnya kesadaran politik yang baik hingga kemudian menimbulkan dorongan untuk berpartisipasi secara aktif dalam politik.

Zaki menilai generasi milenial Indonesia masih sering tercekoki oleh paham-paham tertentu yang membuat mereka tak dapat menerima pandangan-pandangan politik lain.  Bahkan, hanya bisa menerima pandangan-pandangan yang sejalan dengan pandangan politik pribadinya.

Menurut Zaki, literasi politik generasi milenial yang belum baik mencakup pemikiran yang belum terbuka, sifat fanatik terhadap satu haluan politik, dan belum bisanya untuk menerima pandangan-pandangan politik di luar pandangan politik pribadi.

Menurut Firman Manan, hal-hal itu berdampak pada implementasi kehidupan berpolitik generasi milenial yang tidak optimal. Contohnya adalah penggunan hak suara dalam pilkada dan pemilu yang masih minim.

 “Perkembangan teknologi dan media sosial seharusnya mampu menjadikan pengetahuan dan literasi politik generasi milenial lebih baik daripada generasi-generasi sebelumnya. Contohnya, generasi saya dulu sulit untuk mendapatkan informasi karena akses yang terbatas,” tukas Firman.

Hampir seluruh aspek kehidupan diatur oleh negara melalui kebijakan. Sementara kebijakan itu dibuat oleh pemerintah. "Ketika milenial tidak terlibat dalam proses pembuatan kebijakan itu, akan ada alienasi politik. Ketika teralienasi, aspirasi-aspirasi yang ada tidak dapat diwujudkan. Harusnya milenial terlibat secara aktif, misalnya dalam pemilu," ujar Firman.  

Anak Muda dan Politik, Mesti Gimana?
Foto: livemint.com

Kemudian, aktif melakukan proses pengawasan ketika pemerintah melakukan kesalahan. Kalau itu dilakukan, saya optimis politik bisa menjadi lebih baik di Indonesia,” tambah Firman.

Pengajaran dan sosialisasi politik yang baik adalah kunci untuk membentuk literasi politik yang baik di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial.

Hal itu karena literasi politik yang baik merupakan kunci keterlibatan aktif dalam politik. Saluran-saluran pendidikan, khususnya pendidikan formal, perlu berperan aktif memberikan pemahaman yang baik dan menyeluruh dengan pendekatan yang tepat.

Masyarakat Indoensia perlu dibiasakan untuk berpikiran terbuka dalam menerima perbedaan-perbedaan yang ada di sekelilingnya.

Selma Kirana Haryadi
Kontributor Gen Sindo
Universitas Padjadjaran
Instagram: @selma.kirana



(her)
Artikel Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss