Penggemar K-pop Minta E-Commerce Terbesar Indonesia Pakai 100% Energi Terbarukan pada 2030

Nah, konsumsi listrik untuk pusat data tersebut menghasilkan emisi karbon yang sangat tinggi. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019, energi di Indonesia masih didominasi energi fosil yang bauran energinya terdiri dari 65.5% batu bara, 19.3% gas, 3,5% minyak, dan 11,7% EBT (energi baru terbarukan).

Namun data konsumsi negeri dan jejak karbon tidak pernah diungkap. Karenanya, para penggemar K-pop kini menyuarakan keprihatinan mereka tentang dampak lingkungan perusahaan.

Penggemar K-pop Minta E-Commerce Terbesar Indonesia Pakai 100% Energi Terbarukan pada 2030

Foto: Twitter@flowercrownvk

“Tokopedia berhasil mengembangkan bisnisnya dengan menggandeng bintang K-pop. Oleh karena itu, kami berharap ini juga akan bertindak seperti idola kami dan memengaruhi perubahan positif di dunia dengan menggunakan energi terbarukan,” kata Nurul Sarifah dari Kpop4Planet.

Di berbagai dunia, rencana dekarbonisasi sudah dijanjikan oleh perusahaan teknologi global seperti Amazon, Google, Netflix, dan Apple, serta rekan Tokopedia dan perusahaan merger potensial yaitu Gojek. Netflix dan Amazon, misalnya, berjanji mencapai target nol emisi masing-masing pada 2022 dan 2040. Sementara platform Naver yang menjalankan V Live berjanji untukmenjadi "2040 Carbon Negative".

Tentang Pusat Data

Indonesia tercatat memiliki tingkat penggunaan e-commerce tertinggi di dunia, dengan 80%-90% dari 158 juta pengguna internet berbelanja di Tokopedia. Hal ini yang juga menjadi alasan para penggemar K-pop merasa bahwa Tokopedia harus memimpin dengan memberi contoh dan membuat perubahan positif untuk bisa mendapatkan listrik dari sumber terbarukan.

Langkah itu tentunya akan berdampak besar pada arah masa depan Indonesia dan perjuangan untuk keadilan iklim secara global.

Perusahaan teknologi seperti Tokopedia menghabiskan banyak energi untuk menjalankan pusat data mereka. Sebuah pusat data adalah tempat sejumlah peladen (server) komputer berjejaring ditempatkan. Peladen ini menawarkan penyimpanan jarak jauh, pemrosesan, atau distribusi data dalam jumlah besar.

Penggemar K-pop Minta E-Commerce Terbesar Indonesia Pakai 100% Energi Terbarukan pada 2030

Foto: Kpop4planet

Faktanya, beberapa statistik menunjukkan bahwa pusat data di seluruh dunia menggunakan lebih dari 2% listrik dunia dan menghasilkan jumlah emisi karbon yang sama dengan industri maskapai penerbangan global.

Sementara itu, pasar pusat data Indonesia diperkirakan akan tumbuh pada tingkat rata-rata per tahun (CAGR) sebesar 11% selama periode 2019-2025, seiring dengan meningkatnya permintaan layanan daring dari masyarakat.

Baca Juga: Dari Perbudakan hingga Jaring Pembunuh, Ini Fakta Mengerikan Industri Perikanan dalam Film 'Seaspiracy'

“Karena daya yang dikonsumsi oleh pusat data terus meningkat di Indonesia, kita dapat mempercepat transisi energi jika perusahaan teknologi lokal berjanji untuk memperluas penggunaan energi terbarukan mereka,” ujar Nurul.

“Kami ingin saat-saat menonton, mendengarkan, dan mendukung idola favorit kami terasa menyenangkan, tanpa mengkhawatirkan kesehatan planet kami. Jadi kami akan terus meminta perubahan positif kepada perusahaan yang berkolaborasi dengan para bintang K-pop,” ucapnya.

halaman ke-1
Share: