alexametrics
Para Perempuan Bikin Petisi Tolak Pakai Sepatu Hak Tinggi, Tapi Menteri Malah Tak Setuju
Para Perempuan Bikin Petisi Tolak Pakai Sepatu Hak Tinggi, Tapi Menteri Malah Tak Setuju
Pakai sepatu hak tinggi meski membuat perempuan terlihat lebih elegan dan seksi tapi menyakitkan secara fisik. Foto/thepeopleofasia.com/
Tokyo - Gerakan #KuToo di Jepang dibuat untuk menolak kewajiban dari perusahaan bahwa para perempuan harus memakai high heel alias sepatu hak tinggi saat bekerja dan melamar pekerjaan. Sayangnya, menteri malah mengeluarkan pernyataan yang melawan mereka.

Gerakan #KuToo mengadopsi nama kampanye #MeToo yang tahun lalu sangat populer di seluruh dunia. #KuToo mengacu pada dua kata dalam bahasa Jepang yang artinya sepatu (kutsu) dan sakit (kutsuu).

Gerakan ini merebak di Jepang pada awal tahun lalu, diinisiasi oleh aktris sekaligus penulis Yumi Ishikawa.



"Kami mengajukan petisi yang menyerukan pengenalan undang-undang yang melarang perusahaan memaksa perempuan mengenakan sepatu hak tinggi sebagai diskriminasi atau pelecehan seksual," kata Yumi, dikutip Teen Vogue.

Sejauh ini, petisi sudah ditandatangani sebanyak 30.000 orang. Kampanye ini pun terus berkembang, dan mulai mendapat perhatian dunia internasional.

Namun minggu lalu, Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, Takumi Nemoto, malah membela perusahaan dan mengacuhkan petisi tersebut.

“[Memakai sepatu hak tinggi] diterima secara sosial sebagai sesuatu yang masuk akal dalam ranah pekerjaan, diperlukan, dan etis," kata Takumi.

Para Perempuan Bikin Petisi Tolak Pakai Sepatu Hak Tinggi, Tapi Menteri Malah Tak Setuju
Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, Takumi Nemoto. Foto: BBC

Pernyataan ini langsung menuai kritik dari masyarakat. Mereka menilai, pemerintah yang sekaligus juga diwakili menteri pria, tidak boleh mendikte tentang yang seharusnya dipakai atau tidak dipakai perempuan. Masing-masing orang berhak memutuskan hal yang tepat dan nyaman untuk mereka.

Tak hanya itu, sekelompok pria juga mulai turun ke jalan-jalan di Tokyo untuk mendukung #KuToo. "Saya juga pasti kesal kalau ada yang meminta saya memakai ini," ujar seorang pria yang tadinya memakai sepatu hak tinggi, lalu melepaskannya.

"Memakai sepatu hak tinggi membuat saya merasa tidak stabil dan kaki saya berkeringat," imbuhnya kepada Japan Times. Inti dari protes ini menyoroti standar ganda diskriminatif yang dihadapi perempuan di tempat kerja.

"Tidak ada item pakaian pria yang menyebabkan gerakan mereka lebih lambat atau rasa sakit fisik saat memakainya. Berbeda dengan sepatu hak tinggi, dan sepatu ini punya sejarah panjang represi fisik perempuan dan penderitaan," tulis penulis Summer Brennan dalam kolomnya di The Guardian.

Terkadang model, yang tugas profesionalnya banyak mengharuskan mereka memakai sepatu hak yang tingginya luar biasa, juga jatuh saat mengenakan sepatu tersebut. Nah, apalagi perempuan kebanyakan?

Intinya, mau pakai sepatu setinggi apapun tidak masalah, yang penting jangan melarang perempuan jika mereka tidak mau mengenakannya saat di tempat kerja atau dalam acara formal yang menyangkut pekerjaan. Setuju?



(her)
Artikel Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss