alexametrics
Hobi Belanja, Mahasiswa Habiskan Puluhan Juta Per Bulan
Hobi Belanja, Mahasiswa Habiskan Puluhan Juta Per Bulan
Terlalu sering membelanjakan uang saku tanpa perhitungan bisa membuat kamu terjebak gaya hidup hedonisme. Foto/bestlifeonline.com
Jakarta - Status sebagai mahasiswa yang masih bergantung pada orang tua tak menyurutkan mereka untuk menyalurkan hobi belanjanya. Ada yang menghabiskan untuk belanja kosmetik, ada juga yang rajin beli tas bermerek seharga puluhan juta.

Paparan gaya hidup mewah dari televisi, media sosial, dan lingkungan sekitar memang sulit dihindari. Gara-gara ini, fenomena gaya hidup hedonisme pun merebak di kalangan anak muda.

Hedonisme adalah istilah yang dipakai untuk menyebut pandangan seseorang bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Demi mengejar kenikmatan ini, para penganutnya pun tak keberatan untuk menghabiskan uangnya untuk materi tersebut.



Misalnya saja N, mahasiswi yang berkuliah di Bandung. Dia mengaku hobi berbelanja kosmetik tiap bulan sebagai ajang adu gengsi dengan teman-temannya. N mengaku menghabiskan Rp500.000 dari total Rp2 juta uang saku per bulan yang diberikan orang tuanya.

“Buat beli kosmetik karena jurusan gue ini cukup bergengsi dan orang-orang di dalamnya banyak yang good looking, maka make up itu salah satu penunjang kita buat jadi good looking dan menjadi orang-orang bergengsi di jurusan,” kata N yang rajin membeli maskara, lipstik, dan produk kecantikan lainnya.

“Pastinya gue beli make up harus bermerek dan enggak abal-abal,” imbuh N.­­

Kebiasaan berlaku hedon ini dilakukan N sejak dia masuk bangku kuliah. N menjelaskan, dia memiliki kepuasan tersendiri setelah membeli banyak kosmetik. Dia juga merasa status sosialnya naik setelah memiliki banyak produk kosmetik dengan harga mahal.

Kalau N hobi belanja kosmetik, lain lagi dengan G, mahasiswi di Jakarta yang hobi berbelanja tas bermerk dua kali dalam sebulan. Tas yang sering dibeli G berkisar puluhan juta tiap buahnya.

Saking mahalnya, dia pun mengaku menghabiskan Rp50 juta per bulan, hanya dari uang saku yang diberikan orang tuanya. G juga mengaku punya tabungan sendiri kira-kira puluhan juta rupiah.

Gue seneng aja liat tas-tas mahal dan kualitasnya pasti lebih bagus dari tas-tas KW. Setelah gue beli, gue langsung nunjukkin ke temen-temen gue dan mereka juga ikut nunjukkin tas terbaru mereka ke gue. Jadi kita kayak saling pamer tas terbaru keluaran luar negeri soalnya mereknya juga lebih bergengsi,” ungkap G.

G menceritakan awal mula senang berbelanja tas sejak SMA. Saat itu, teman-teman G banyak yang berasal dari kalangan menengah ke atas dan senang membeli tas bermerek mahal sehingga dia pun terpengaruh oleh gaya hidup teman-temannya.

Ditambah orang tuanya selalu memberikan uang saku per bulan hingga puluhan juta, G pun merasa tak masalah jika uang tersebut dihabiskan untuk membeli barang-barang mahal.

“Dengan membeli barang-barang ini, gue bisa diterima sama temen-temen gue yang sering berbelanja barang mewah juga,” katanya.

Meski diterima lingkungannya, G menyadari dampak negatif dari sikapnya itu, yaitu ketagihan dan menjadi konsumtif.

“Kalau gue jadi enggak bisa nabung soalnya uang selalu habis buat beli make up tiap bulan. Pengen-nya bertekad nabung, tapi beli make up ini udah enggak tertahankan,” kata N.

Amalia Zhahrina
Gen Sindo
Politeknik Negeri Jakarta



(her)
Redaksi SINDOnews
SINDOnews
Artikel Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss