Pendidikan Seharusnya Tidak Individualistis dan Materialistis
loading...

Pendidikan di Indonesia mesti mencari pola kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi tiap daerah. Foto/Dok. Okezone
A
A
A
JAKARTA - Banyak cara bisa dilakukan untuk merayakan Hari Pendidikan yang jatuh tiap 2 Mei, seperti yang tahun ini dilakukan Sokola Institute binaan aktivis pendidikan Butet Manurung.
Sokola Institute adalah organisasi yang punya perhatian pada pendidikan untuk komunitas adat. Organisasi ini merayakan Hari Pendidikan dengan menyelenggarakan Sokola Keliling Online bertajuk "Refleksi Pendidikan Kontekstual".
![Pendidikan Seharusnya Tidak Individualistis dan Materialistis]()
Foto: Instagram @sokolainstitute
Acara tersebut disiarkan secara langsung melalui Instagram Live @sokolainstitute dan @butet_manurung. Pada kesempatan itu, pendiri Sokola Institute, Butet Manurung ditemani oleh sukarelawan Sokola Fadilla M. Apristawijaya yang merupakan kandidat Ph.D. di Educational Science, Oulu University, Finlandia.
Sokola Keliling Online diawali dengan pertanyaan dari Butet kepada Fadilla mengenai makna pendidikan. Perempuan yang akrab disapa Dilla itu lalu berpendapat bahwa makna pendidikan sangat luas dan beragam, bergantung pada sejarah pendidikan di tempat tersebut.
Di Indonesia, pendidikan mulai dikenal seiring dengan penyuaraannya yang dilakukan olehSoewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Pada masa itu, Ki Hajar Dewantara menyuarakan pewujudan sistem pendidikan yang berazaskan kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang merupakan antitesa dari sistem pendidikan di masa kolonial yang mengutamakan intelektualitas, individualistis, dan materialistis.
Berangkat dari hal tersebut, kita bisa mulai merefleksikan kondisi pendidikan Indonesia pada masa sekarang. Sudahkah mencapai cita-cita luhur yang dicitakan oleh sang Bapak Pendidikan?
![Pendidikan Seharusnya Tidak Individualistis dan Materialistis]()
Ki Hajar Dewantara. Foto: Wiki Commons
Menurut Dilla, stigma yang muncul pada mayoritas masyarakat saat ini adalah bahwa belajar yang merupakan bagian dari proses pendidikan dilakukan semata agar diri sukses. Hal ini menjadikan pendidikan yang terbentuk hanya berorientasi pada masa depan dan diri sendiri, tidak untuk saat ini dan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, pendidikan menjadi kurang implementatif. Kontekstualisasinya terhadap kehidupan yang sedang berjalan dan lingkungan sekitar juga dipertanyakan. Sekolah yang merupakan tempat untuk belajar dipenuhi dengan teori dan minim implementasi.
Sokola Institute adalah organisasi yang punya perhatian pada pendidikan untuk komunitas adat. Organisasi ini merayakan Hari Pendidikan dengan menyelenggarakan Sokola Keliling Online bertajuk "Refleksi Pendidikan Kontekstual".

Foto: Instagram @sokolainstitute
Acara tersebut disiarkan secara langsung melalui Instagram Live @sokolainstitute dan @butet_manurung. Pada kesempatan itu, pendiri Sokola Institute, Butet Manurung ditemani oleh sukarelawan Sokola Fadilla M. Apristawijaya yang merupakan kandidat Ph.D. di Educational Science, Oulu University, Finlandia.
Sokola Keliling Online diawali dengan pertanyaan dari Butet kepada Fadilla mengenai makna pendidikan. Perempuan yang akrab disapa Dilla itu lalu berpendapat bahwa makna pendidikan sangat luas dan beragam, bergantung pada sejarah pendidikan di tempat tersebut.
Di Indonesia, pendidikan mulai dikenal seiring dengan penyuaraannya yang dilakukan olehSoewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Pada masa itu, Ki Hajar Dewantara menyuarakan pewujudan sistem pendidikan yang berazaskan kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang merupakan antitesa dari sistem pendidikan di masa kolonial yang mengutamakan intelektualitas, individualistis, dan materialistis.
Berangkat dari hal tersebut, kita bisa mulai merefleksikan kondisi pendidikan Indonesia pada masa sekarang. Sudahkah mencapai cita-cita luhur yang dicitakan oleh sang Bapak Pendidikan?

Ki Hajar Dewantara. Foto: Wiki Commons
Menurut Dilla, stigma yang muncul pada mayoritas masyarakat saat ini adalah bahwa belajar yang merupakan bagian dari proses pendidikan dilakukan semata agar diri sukses. Hal ini menjadikan pendidikan yang terbentuk hanya berorientasi pada masa depan dan diri sendiri, tidak untuk saat ini dan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, pendidikan menjadi kurang implementatif. Kontekstualisasinya terhadap kehidupan yang sedang berjalan dan lingkungan sekitar juga dipertanyakan. Sekolah yang merupakan tempat untuk belajar dipenuhi dengan teori dan minim implementasi.
Lihat Juga :