alexametrics
Sexy Killers, Menguak yang Tersembunyi di Belakang Batu Bara
Sexy Killers, Menguak yang Tersembunyi di Belakang Batu Bara
Film dokumenter Sexy Killers membuka hal-hal yang selama ini jarang dibicarakan media dan masyarakat. Foto/Watchdoc
Jakarta - Film dokumenter “Sexy Killers” membuka sisi gelap industri pertambangan batu bara. Bagi yang tidak suka kena spoiler, sebaiknya nonton filmnya dulu sebelum baca artikel ini.

Beberapa hari sebelum pemilihan umum (pemilu), muncul sebuah film dokumenter yang cukup membuat rakyat Indonesia gamang setelah menontonnya: memilih atau golput. Film berdurasi 1 jam 28 menit produksi Watchdoc ini memberikan informasi yang tidak terduga.

Namun, di balik semua informasi tersebut, mari kita ulas satu-persatu apa yang berusaha disampaikan oleh film karya Dandhy Dwi Laksono ini.



Dari Mana Asal Listrik yang Kita Nikmati?
Film ini dimulai dengan adegan yang, katakanlah, dapat disebut sebagai adegan 18+ walaupun tidak ditayangkan secara eksplisit. Dalam adegan tersebut, terdapat sepasang kekasih yang sedang berasyik-masyuk di sebuah apartemen.

Namun, sebenarnya yang ingin ditunjukkan dari adegan ini adalah berapa banyak daya listrik yang mereka pakai. Kamera menunjukkan satu-persatu alat elektronik dalam ruangan tersebut dan memberi keterangan tentang daya yang dibutuhkan tiap alat tersebut. Seperti lampu tidur 9 watt, kulkas 250 watt, dan televisi 150 watt.

Selanjutnya, muncul suara narator yang mempertanyakan bagaimana listrik dapat masuk dalam ruangan tersebut. Penonton akan menyaksikan industri pertambangan batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur.

Narator menjelaskan bahwa batu bara merupakan sumber energi yang saat ini digunakan di Indonesia untuk menghasilkan listrik. Batu bara tersebut akan disalurkan oleh tongkang-tongkang ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ada di Karimun Jawa (Jawa Tengah), Batang (Jawa Tengah), Cirebon (Jawa Barat), Buleleng (Bali), dan Palu (Sulawesi Tengah).

Lebih Hemat tapi Jadi Bencana
Batu bara dipilih sebagai sumber energi penghasil listrik karena biayanya lebih hemat dibandingkan sumber energi yang lain. Dengan menggunakan batu bara, biaya yang digunakan hanya Rp600 per kwh.

Jika dibandingkan dengan yang lain, biaya sumber energi gas adalah Rp1000 per kwh; biaya bahan bakar minyak (BBM) adalah Rp1600 per kwh; dan biaya energi matahari adalah Rp2900 per kwh. Jelaslah bahwa berbagai perusahaan tambang berlomba-lomba mendirikan industri pertambangan batu bara dan PLTU di berbagai daerah.

Namun, di balik itu semua, terdapat banyak jiwa yang dirugikan. Bekas kubangan tambang yang tidak direklamasi di Samarinda menyebabkan 32 jiwa meninggal karena tenggelam di kubangan tersebut sepanjang tahun 2011-2018.

Pada November 2018 di Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lima rumah hancur, 11 rumah rusak, dan 41 jiwa harus mengungsi akibat adanya aktivitas pertambangan yang terlalu dekat dengan pemukiman warga. Hasil sisa pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) juga dapat mengancam sistem pernapasan manusia apabila terhirup dan masuk ke paru-paru.

Tidak hanya itu, PLTU juga merugikan nelayan dan petani. Di perairan Celukan Bawang, Bali, hasil laut para nelayan menurun drastis. Sementara itu, hasil kebun kelapa di sana juga menurun dari 9000 butir menjadi 3500 butir per panen. Di Cirebon, Jawa Barat, aktivitas PLTU juga mengganggu aktivitas petani garam.

Film ini juga menampilkan data-data mengenai siapa saja yang berada di balik industri pertambangan batu bara ini. Beberapa nama di antaranya merupakan kedua pasang calon presiden dan wakil presiden Indonesia yang 17 April lalu telah dipilih oleh rakyat Indonesia.

Pengelolaan Pertambangan Harus Memperhatikan Lingkungan
Film yang diunggah ke YouTube pada 13 April ini tidak semata-mata ingin menjadi ‘provokator’ agar rakyat Indonesia mengubah pilihannya atau bahkan memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

Di balik itu semuanya, film ini merupakan bentuk aspirasi masyarakat mengenai keberadaan pertambangan batu bara dan PLTU yang makin hari makin merugikan masyarakat di sekitarnya. Tidak hanya merugikan manusia, keberadaan keduanya juga dapat mencemari dan merusak lingkungan apabila tidak diperhatikan pengelolaannya.

Film “Sexy Killers” dapat menjadi pengingat bagi siapapun nanti yang resmi menjadi pemimpin Indonesia agar segera menyelesaikan permasalahan menahun ini. Janji-janji kampanye yang selama ini digaungkan harus direalisasikan. Jangan sampai, kebijakan baru untuk lima tahun ke depan nanti merugikan rakyat Indonesia. Sebab, harapan rakyat Indonesia ada di tangan mereka.

Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Kontributor Gen Sindo
Universitas Indonesia

Aniesa bisa dihubungi di:
Instagram: arpramithad



(her)
Artikel Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu dibawah ini)
loading gif
Artikel Gen SINDO
  • Hai teman teman...
    Kami mengajak untuk mengembangkan bakat kamu menulis dengan mengirimkan artikel.
    dalam bentuk word dengan panjang tulisan 4000 karakter.
    sertakan juga foto yang mendukung artikel kamu, identitas, serta foto terbaru kamu.
    Tunggu apalagi, segera kirim tulisan kamu ke : gensindo.mail@gmail.com
  • Visit Our Page :
  • Facebook
  • Twitter
  • Rss