Review Film How Explain It: Malu-malu Mau Bicara Seks
Rabu, 25 Oktober 2023 - 13:27 WIB
Jangankan belajar tentang seks, menyebutkan kata seks saja masih dianggap tabu oleh beberapa orang tua. Pada akhirnya, generasi remaja memilih untuk belajar dari teman, nonton televisi, atau pinjam kaset/DVD. Bertambahnya zaman, media belajar para remaja ini bertambah menjadi YouTube, TikTok, atau media digital lainnya. Dilema, media yang disebutkan di atas adalah tempat ternyaman mencari informasi tentang seks.
Nyaman bukan berarti aman. Sangat tidak dianjurkan mengenal dan belajar seks bukan dari orang atau sumber tepercaya. Apalagi hal terkait seks erat kaitannya dengan norma agama dan sosial. Para remaja di usia pubertas idealnya punya tuntunan menghadapi perubahan fisik, emosi, dan perilaku, termasuk bagaimana mengelola gairah dengan lawan jenisnya.
Sayangnya, survei yang digawangi oleh salah satu produsen kontrasepsi terkenal di Indonesia pada 2019 menyimpulkan bahwa 61% responden remaja takut bicara soal seks dengan orang tuanya. Mereka takut kalau dihakimi oleh orang tua ketika membuka percakapan terkait seks.
Tak hanya anak, 59% responden orang tua, dari lima kota besar di Indonesia, pun masih takut ketika memulai diskusi tentang seks dengan anak. Mereka takut diskusi seks akan mengiring anak kepada pembenaran dan tuntunan seks pranikah. Padahal maksudnya murni edukasi dan untuk menjauhkan.
Dari persentase sisanya, bisa diberikan kesimpulan, ada orang tua yang sudah berani melakukan diskusi seksual dengan anak. Beberapa dari mereka adalah kemudian aktif membuat pemahamannya berupa konten video, lagu di media sosial, ataupun menulis lewat blog atau artikel.

Foto: Vidio
Ketika orang tua sudah ada keberanian, perlu diperhatikan dan dipahami keadaan psikologi si anak. Orang tua harus senantiasa sensitif, tahu waktu dan tempat berdiskusi. Sensitif berarti orang tua sadar akan perubahan perilaku anak, meski kecil sekali pun. Berusaha masuk dan memahami dunianya adalah salah satu cara melatih sensitivitas. Kalau banyak yang tidak tahu, orang tua harus mau mencari tahu sendiri.
Jangan lupa untuk hormati setiap pertanyaan anak, meski sekonyol apa pun. Orang tua harus tunjukkan minat kepada hal yang anak sukai. Jangan jadi bos pada anak saat itu. Dengan begitu, mereka akan merasa dihargai dan mampu berkompromi lebih baik dengan sesuatu yang dia inginkan kelak.
Zaman sekarang, waspada itu tidak berarti hanya menjadi pagar pelindung. Namun, orang tua menjadi mentor dan suri teladan dalam hidup mereka. Sebagai mentor, anak mengerjakan tugasnya sendiri. Bantuan orang tua secukupnya dan melihat sejauh mana anak mampu melangkah. Anak pun wajib punya inisiatif karena mentor akan bertindak ketika ada pancingan kreativitas dari anak, selaku murid.
Nyaman bukan berarti aman. Sangat tidak dianjurkan mengenal dan belajar seks bukan dari orang atau sumber tepercaya. Apalagi hal terkait seks erat kaitannya dengan norma agama dan sosial. Para remaja di usia pubertas idealnya punya tuntunan menghadapi perubahan fisik, emosi, dan perilaku, termasuk bagaimana mengelola gairah dengan lawan jenisnya.
Sayangnya, survei yang digawangi oleh salah satu produsen kontrasepsi terkenal di Indonesia pada 2019 menyimpulkan bahwa 61% responden remaja takut bicara soal seks dengan orang tuanya. Mereka takut kalau dihakimi oleh orang tua ketika membuka percakapan terkait seks.
Tak hanya anak, 59% responden orang tua, dari lima kota besar di Indonesia, pun masih takut ketika memulai diskusi tentang seks dengan anak. Mereka takut diskusi seks akan mengiring anak kepada pembenaran dan tuntunan seks pranikah. Padahal maksudnya murni edukasi dan untuk menjauhkan.
Dari persentase sisanya, bisa diberikan kesimpulan, ada orang tua yang sudah berani melakukan diskusi seksual dengan anak. Beberapa dari mereka adalah kemudian aktif membuat pemahamannya berupa konten video, lagu di media sosial, ataupun menulis lewat blog atau artikel.

Foto: Vidio
Ketika orang tua sudah ada keberanian, perlu diperhatikan dan dipahami keadaan psikologi si anak. Orang tua harus senantiasa sensitif, tahu waktu dan tempat berdiskusi. Sensitif berarti orang tua sadar akan perubahan perilaku anak, meski kecil sekali pun. Berusaha masuk dan memahami dunianya adalah salah satu cara melatih sensitivitas. Kalau banyak yang tidak tahu, orang tua harus mau mencari tahu sendiri.
Jangan lupa untuk hormati setiap pertanyaan anak, meski sekonyol apa pun. Orang tua harus tunjukkan minat kepada hal yang anak sukai. Jangan jadi bos pada anak saat itu. Dengan begitu, mereka akan merasa dihargai dan mampu berkompromi lebih baik dengan sesuatu yang dia inginkan kelak.
Zaman sekarang, waspada itu tidak berarti hanya menjadi pagar pelindung. Namun, orang tua menjadi mentor dan suri teladan dalam hidup mereka. Sebagai mentor, anak mengerjakan tugasnya sendiri. Bantuan orang tua secukupnya dan melihat sejauh mana anak mampu melangkah. Anak pun wajib punya inisiatif karena mentor akan bertindak ketika ada pancingan kreativitas dari anak, selaku murid.
Lihat Juga :
tulis komentar anda