Ini Hal-Hal Penting yang Dilakukan Organisasi dan Komunitas di Lokasi Bencana

Ini Hal-Hal Penting yang Dilakukan Organisasi dan Komunitas di Lokasi Bencana
Kerja keras para sukarelawan, dari evakuasi hingga pemulihan psikologis korban bencana. Foto/Istimewa
JAKARTA -
SALAH satu lembaga kemanusiaan yang bergerak dalam edukasi sukarelawan dan pemberdayaan masyarakat adalah Sekolah Relawan. Lembaga ini telah menaungi 4.428 relawan dari 27 komunitas serta 195 instansi dan sekolah. Sekolah Relawan berperan aktif dalam penanggulangan bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Pemuda yang terjun langsung ke tempat bencana adalah pemuda yang memiliki keterampilan tertentu yang dibutuhkan dalam bidang kerelawanan. Keterampilan tersebut antara lain tenaga paramedis, penyedia logistik, atau orang-orang yang mampu berkecimpung di bagian dapur umum. Selain keterampilan, pelatihan, dan edukasi sukarelawan menjadi bekal penting sebelum turun langsung ke lokasi bencana.

Meski begitu, menjadi sukarelawan muda tidak harus selalu turun langsung ke lokasi bencana. Pemuda yang melakukan penggalangan donasi untuk korban bencanapun sudah dapat disebut sebagai sukarelawan.

"Seperti teatrikal misalnya, pemuda turun di jalanan untuk menggalang donasi atau mengumpulkan barang-barang atau makanan-makanan yang sekiranya bisa dikonsumsi," ujar Thea Rahmani selaku Corporate Secretary dari Sekolah Relawan.

Sumbangsih yang dilakukan sukarelawan muda saat turun langsung ke lokasi bencana cukup beragam. Selain itu, mereka yang memiliki latar belakang pendidikan kedokteran dan lainnya dapat berperan sebagai tenaga medis bagi korban bencana.

Juru masak juga merupakan salah satu peran yang dibutuhkan saat berada di lokasi bencana. Keterampilan memasak dalam jumlah besar dibutuhkan untuk penyediaan pangan bagi korban. Penyembuhan trauma yang dialami korban juga dapat dilakukan juga oleh sukarelawan muda.

Sebelum terjadinya bencana, biasanya para sukarelawan di Sekolah Relawan sudah melakukan kegiatan mitigasi bencana. Mereka dilatih untuk mampu menghadapi bencana dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Saat bencana terjadi, sukarelawan sudah menyiapkan satu tas khusus yang bisa langsung diangkut saat itu juga.

Setelah melakukan proses evakuasi, biasanya mereka mengevaluasi kembali kontribusi yang telah dilakukan dalam hari itu. Satu di antaranya yaitu menganalisis program yang sekiranya cocok diterapkan untuk masyarakat yang menjadi korban. Karena itu, keesokan harinya dapat memberikan sumbangsihyang benar-benar dibutuhkan para korban.

"Misalnya program pemberdayaan masyarakat yang kemarin terjadi di Palu. Sekolah Relawan mengadakan program Perahu untuk Nelayan. Jadi, kita memberikan perahu-perahu untuk nelayan yang terdampak tsunami," tambah Thea.

Thea juga mencatat bahwa kebanyakan orang membantu korban bencana hanya pada saat keadaan darurat dan saat pengungsian saja. Namun, setelah sebulan di pengungsian, jumlah bantuan yang masuk ke lokasi bencana menurun.

Padahal, saat itulah korban bencana sangat membutuhkan bantuan. Tidak hanya bantuan makanan dan tempat tinggal, juga bantuan untuk mendapatkan pekerjaan.

Dari semua yang perlu diatasi di lokasi bencana, penyembuhan trauma (trauma healing) merupakan tantangan tersendiri bagi sukarelawan. Pasalnya, periode penyembuhan bagi korban yang kehilangan keluarga dan kerabat umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Selain itu, trauma dapat disebabkan oleh hilangnya mata pencaharian, tempat tinggal, dan banyaknya beban pikiran yang dirasakan oleh korban.

Selain Sekolah Relawan, Pusat Studi Bencana (PSB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM IPB) juga mempunyai tim sukarelawan muda. LPPM-IPB membentukTim Aksi Sigap (TAS) untuk melakukan kegiatan quick response ke daerah-daerah bencana.

Selain itu, LPPM-IPB membuat tim yang bergerak cepat ke berbagai daerah bencana yaitu Mahasiswa Tanggap Bencana (Mantab). PSB LPPM-IPB ini langsung dikoordinasikan oleh Dr Yonvitner, Kepala Pusat Studi Bencana LPPM-IPB.

Sebelum turun ke daerah bencana, Tim Mantab melakukan rapat koordinasi anggota terlebih dahulu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mematangkan, mempersiapkan, serta membahas efektivitas kerja selama di lapangan. Anggota Tim Mantab ini terdiri dari mahasiswa aktif multi strata dan multi disiplin ilmu.

Saat turun ke daerah bencana, Tim Mantab memiliki tugas utama untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait,seperti BNPB, BPBD, TNI, Polri, alumni IPB, puskesmas, posko sukarelawan, dan lain lainnya. Kemudian, pengiriman dan pemberian bantuan kepada korban bencana di Posko IPB Peduli yang didirikan Tim Mantab di daerah bencana.

Pengumpulan data dan dokumentasi dari lokasi-lokasi yang terdampak bencana turut dilakukan. Pendataan dilakukan untuk melihat seberapa besar potensi pertanian dalam arti luas yang terdampak akibat bencana. Dengan begitu dapat dilakukan pendampingan oleh IPB agar langkah yang dilakukan dalam pemulihan dan pembangunan kembali bisa tepat sasaran dan tepat guna.

Surya Gentha Akmal memiliki kesan yang tak terlupakan selama turun menjadi komandan Tim Mantab. Mahasiswa yang juga bergabung dengan Research Scientist at Centerfor Disaster Studies, LPPM-IPB University ini merasakan empati yang tinggi serta kepedulian kepada sesama.

"Seperti yang pernah saya tuliskan dalam opini di KORAN SINDO, bahwa bencana bukan hanya urusan kemanusiaan, tetapi hadir sebagai energi positif yang memperkuat solidaritas bangsa," tandasnya.

Kesan lain yang dapat dirasakan dan dilihat oleh Gentha yang dikenal sebagai Bang Gen ini adalah bencana memaksa manusia untuk menggunakan akal pikiran dan nalarnya untuk kembali pada situasi normal. Bencana merupakan mekanisme penting dalam proses pembelajaran manusia untuk memunculkan kesadaran bahwa korban jiwa yang banyak berjatuhan bukan karena mereka berdosa, tapi karena mereka tinggal dibangunan dan infrastruktur yang kualitasnya tidak baik.


(her)
Share: